Suramnya Saham GOTO Bikin Investor Trauma dengan Emiten Teknologi

ADVERTISEMENT

Suramnya Saham GOTO Bikin Investor Trauma dengan Emiten Teknologi

Aulia Damayanti - detikFinance
Jumat, 09 Des 2022 15:08 WIB
GoTo
Foto: Dok. GoTo
Jakarta -

Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) terhitung sudah 7 kali mengalami auto reject bawah (ARB). Hal ini terjadi setelah gembok atau lock up di buka pada 1 Desember 2022 kemarin.

Sebelumnya, harga saham GOTO memang mengalami penurunan dan kenaikan. Sempat berada di posisi harga IPO dan kemudian di atas harga saat IPO.

Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis mengatakan kasus penurunan saham startup besar seperti GOTO ini dipastikan membuat investor khawatir atau takut. Padahal belum lama perusahaan melakukan IPO, namun kinerja perusahaan saat ini masih merugi.

"Penurunan pada saham GOTO maupun saham teknologi lainnya bisa mempengaruhi psikologis dari pelaku pasar. Sehingga memungkinkan adanya kekhawatiran/ketakutan pada pelaku pasar kepada saham-masih ada potensi terjadi penurunan. Mengingat saat ini psikologis pasar ke sektor teknologi sedang tidak bagus," katanya kepada detikcom.

Azis juga memproyeksi ada potensi penurunan saham GOTO ke level Rp 50. Apa lagi saat ini masih ada aksi jual saham yang terjadi.

"Potensi penurunan hingga Rp 50 memungkinkan ada mengingat masih besarnya aksi tekanan jual serta outlook yang masih negatif,"saham di sektor teknologi," ujarnya.

Sementara menurut Direktur Equator Swarna Capital Hans Kwee, saham GOTO masih kondisi perusahaan masih cukup kuat untuk mendapatkan keuntungan ke depan. Ia menilai perusahaan masih akan mampu melakukan berbagai upaya agar perusahaan untung.

"Bisnisnya sebenarnya masih menjanjikan tapi tentu perusahaan akan melakukan banyak upaya untuk mengubah dari kerugian menjadi bisa untung ke depannya. Tetapi kalau secara fundamental harusnya perusahaannya masih cukup kuat," jelasnya.

Kemudian berkaitan dengan investor jumbo ramai-ramai menjual sahamnya, Hans mengatakan hal itu merupakan fenomena panic selling. Tetapi dia tidak menyalahkan tindakan investor mengingat banyak ketidakpastian akan aksi dari investor sendiri.

"Memang kalau kita lihat ini kan penurunan karena lock up period nya dibuka. Masalahnya ini memang keputusan investor kita nggak pasti ya. Tetapi memang biasanya pasar itu selalu over reactive untuk suatu kejadian. Jadi bergerak berlebih," tuturnya.

(ada/das)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT