2023 Dihantui Resesi, Bagaimana Prospek Pasar Modal RI?

ADVERTISEMENT

2023 Dihantui Resesi, Bagaimana Prospek Pasar Modal RI?

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Rabu, 04 Jan 2023 19:45 WIB
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 5% ke level 4.891. Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan sementara perdagangan saham siang ini.
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Perekonomian dunia dihadapkan pada ancaman resesi global di tahun 2023 ini. Hal ini di antaranya dipicu oleh inflasi yang tinggi yang membuat banyak sentral melakukan pengetatan moneter melalui kenaikan suku bunga acuan. Lalu, bagaimana nasib pasar modal Indonesia?

Dalam keterangannya, Rabu (4/1/2023), Head of Research RHB Sekuritas Indonesia, Andrey Wijaya mengatakan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan akan menghadapi volatilitas yang tinggi selama semester I-2023. Namun, ia optimistis di penghujung tahun 2023 akan positif dengan target indeks 7.450.

Menurutnya, volatilitas IHSG akan disebabkan pelemahan mata uang rupiah dan kekhawatiran akan resesi global yang masih akan menghantui di kuartal pertama 2023.

Hal senada juga diutarakan oleh Head of Institutional Equities RHB Sekuritas Indonesia, Michael Setjoadi. Ia mengatakan, investor wajib memantau faktor-faktor yang mempengaruhi volatilitas pasar, seperti ekspektasi perlambatan laju pertumbuhan ekonomi Indonesia, potensi penurunan harga komoditas global khususnya harga batu bara, dan kenaikan inflasi.

Kemudian, kenaikan suku bunga the Fed yang dapat melanjutkan derasnya dana asing yang keluar dan akan menambah tekanan terhadap nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

"Kami optimis IHSG dapat menguat di semester kedua 2023 seiring dengan membaiknya kondisi ekonomi makro yang disebabkan oleh pulihnya tingkat konsumsi dan kenaikan upah minimum, serta pertumbuhan sektor perbankan, komoditas metal, dan konsumer," ungkapnya.

Menurutnya, bank tetap menjadi sektor yang paling disukai. Pihaknya memperkirakan bank akan memiliki pertumbuhan laba yang lebih tinggi dari sektor lainnya, karena pertumbuhan kredit yang sehat dari segmen modal kerja, konsumer, dan investasi.

Kenaikan marjin bunga bersih (net interest margin) mungkin tidak secepat tahun lalu, namun kualitas aset diperkirakan akan membaik seiring dengan penurunan kredit berisiko (loan at risk) dan kredit macet (non-performing loan), serta biaya kredit (cost of credit) yang akan mengalami penurunan seiring dengan rasio cakupan LAR (Loan at Risk) yang mencukupi.

Faktor penguat IHSG lainnya adalah sektor metal mining, terutama nikel, serta sektor pendukungnya seperti transportasi perkapalan akan diuntungkan dari pengoperasian smelter baru di akhir 2023 dan 2024.

Pihaknya memperkirakan konsumsi akan pulih di semester II 2023 disebabkan adanya dampak positif dari kenaikan upah, dampak inflasi yang mulai berkurang, dan daya beli masyarakat biasanya membaik menjelang tahun pemilu. Selain itu, penurunan harga komoditas juga dapat menurunkan biaya produksi dan biaya bahan baku.

Akan tetapi investor perlu mencermati adanya potensi penurunan dan volatilitas IHSG di paruh pertama 2023. Dari perspektif analisa teknikal saham, asumsi dasar menunjukkan bahwa IHSG memiliki potensi penurunan ke level IHSG 6.500 pada semester I-2023 yang disebabkan ketidakpastian kondisi makroekonomi yang akan meningkatkan volatilitas pasar.

Investor disarankan untuk melakukan pendekatan bottom-up dengan strategi buy on weakness pada saham-saham berkapitalisasi pasar besar dengan fundamental yang baik. Pihaknya memperkirakan IHSG akan kembali bullish di paruh kedua 2023 dengan target IHSG di 7.450.

(acd/das)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT