BEJ Catat Pertumbuhan Indeks Saham Terbesar Ketiga Dunia
Sabtu, 05 Agu 2006 18:05 WIB
Jakarta - Bursa Efek Jakarta (BEJ) mencatat pertumbuhan indeks saham terbesar ketiga dunia setelah Rusia dan Cina.Sepanjang periode 2 Januari - 4 Agustus 2006, pertumbuhan saham BEJ yang dicerminkan dalam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik hampir 20 persen.IHSG pada 2 Januari ada di level 1.171,709 dan pada 4 Agustus di posisi 1.389,353.Bursa Rusia mencatat pertumbuhan indeks saham tertinggi di dunia dengan naik 35 persen. Sedangkan diurutan kedua diduduki Bursa Cina yang naik 25 persen."Indikator pertumbuhan harga saham yang ada di sebuah bursa dicerminkan indeks harga saham. Urutan dunia pada Januari-awal Agustus adalah Rusia 35 persen, Cina 25 persen dan Indonesia 20 persen. Kita urutan ketiga," kata Direktur Pencatatan BEJ, Eddy Sugito.Hal itu diungkapkan Eddy, disela acara workshop saham untuk investor perempuan di Gedung BEJ, Sabtu (5/8/2006).Indeks di BEJ menurut Eddy, pernah mencatat kenaikan tertinggi di dunia sebesar 60 persen pada tahun 2003.Namun, meski indeks saham melejit cukup signifikan, dari sisi besarnya ukuran pasar (size) Indonesia ketinggalan jauh dengan beberapa negara di ASEAN."Tapi kalau size kita masih relatif kecil dibanding pasar yg lain, size harus kita akui masih dibawah Malaysia, Singapura dan Thailand. Kita hanya menang size dengan pasar Filipina," tutur Eddy.Perhitungan ukuran pasar (size) ini menurut Eddy, berasal dari perkalian atas semua saham di bursa dengan harga sahamnya. Dari perumusan ini, pasar saham Indonesia memiliki total size sebesar Rp 960 Trilun. Jumlah itu menurut Eddy, jauh lebih kecil dari Malaysia yang sekitar 2,5 kali size pasar saham Indonesia.Masih kecilnya size pasar saham Indonesia, menurut Eddy, karena jumlah emiten yang tercatat di BEJ tidak banyak hanya 340 perusahaan. Sedangkan Malaysia telah mencapai 1.000 emiten. "Dari situ saja bisa dilihat betapa sulitnya mengundang perusahaan yang cukup punya potensi untuk ditawarkan sahamnya di bursa," jelas Eddy.Minimnya minat perusahaan melantai di bursa, ungkap Eddy, karena jika sudah tercatat di bursa maka perusahaan dituntut untuk transparan."Tapi saya lihat budaya transparan di Indonesia masih very luxurious karena mereka sudah sangat nyaman dengan segala ketertutupan agar bisa bermain dalam pajaknya, jika menjadi emiten mereka tidak bisa sembunyikan profit besar dan kondisi di Indonesia masih sangat mendukung," papar Eddy.Maka itu, ungkap Eddy, perlu diupayakan sistem perpajakan yang meringankan untuk merangsang emiten masuk ke bursa. "Kita bicara sistem perpajakan. Kita memang lihat upaya pemerintahan SBY untuk membenahi itu sangat luar biasa, tapi diakui kondisi ini masih belum mencapai harapan," jelas Eddy.Masih senangnya pemilik menjadikan usahanya sebagai perushaan tertutup dengan alasan untuk bisa mengecilkan pajak, lanjut Eddy, merupakan tantangan berat yang harus dihadapi BEJ untuk mengajak perusahaan itu go public."Saya bilang ke pemerintah tolong deh bantu kita perbesar size dengan memberi insentif pajak. Kalau mereka mau masuk bursa diapresiasi dong kasih 5 persen discount, kalau 30 persen tax-nya di-discount tax-nya 5 persen jadi hanya bayar 25 persen," tutur Eddy.Pola seperti ini, kata Eddy, sudah berhasil dilakukan oleh Bursa Thailand yang kini memiliki 448 perusahaaan tercatat karena menawarakan sesuatu yang nyata.
(ir/)











































