Manulife Proyeksikan IHSG Tembus 8.040 Hingga Akhir 2023

ADVERTISEMENT

Manulife Proyeksikan IHSG Tembus 8.040 Hingga Akhir 2023

Shafira Cendra Arini - detikFinance
Selasa, 17 Jan 2023 15:42 WIB
Pekerja berjalan dengan latar belakang layar pergerakan harga saham di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (8/4/2022). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari Jumat (8/4) sore ditutup naik 83,46 poin atau 1,17 persen menembus level  7.210. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/wsj.
Foto: ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA
Jakarta -

PT Manulife Aset Manajemen Indonesia memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga akhir 2023 akan menyentuh level 8.040. Hal ini dipicu oleh perubahan selera investasi ke arah yang lebih positif terhadap pasar negara berkembang.

Senior Portofolio Manager Equity Samuel Kesuma mengatakan, Indonesia bisa menunjukkan performa cukup baik dalam kondisi 'badai' di 2022 lalu, dengan membukukan kinerja sebesar 4,1%. Meski angka ini tidak terlalu besar, namun masih lebih baik dibandingkan negara-negara di dunia.

Ia menekankan, ada kenaikan yang sangat positif antara kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS), The Fed, dengan arus masuk atau minat investasi ke saham negara berkembang atau emerging market (EM).

"Saat suku bunga naik itu, investor menjual dengan sangat agresif di negara berkembang. Sebagai gambaran, di 2022, untuk kawasan EM exclude China itu ada outflow sekitar US$ 60 miliar. tapi di periode yang sama, Indonesia menerima inflow US$ 4 miliar sepanjang 2022," katanya, dalam Press Conference Market Outlook 2023 Seeds of Opportunity, lewat saluran Zoom Meeting, Selasa (17/01/2023).

Samuel mengatakan, hal tersebut menunjukkan pada saat investor asing tengah sangat pesimis di tahun lalu, mereka melihat RI sebagai bright spot (titik terang) atau tempat bersembunyi RI kondisi ekonomi global yang sedang tidak stabil.

Memasuki 2023, Samuel mengatakan korelasi yang sama juga akan terjadi. Ia melihat, sentimen yang jauh lebih positif dibandingkan tahun lalu. Ketika suku bunga The Fed sudah berhenti naik, investor sudah forward looking atau melihat ke arah jangka panjang.

"Kita melihat arus investor sudah mulai berbalik. Kalau kita lihat di November dan Desember, investor asing yang terus menerus menjual, sekarang sudah mulai berbalik (ke RI)," ujar Samuel.

Selaras dengan kondisi ini, Samuel yakin, IHSG juga akan tumbuh positif. Kondisi ini juga didorong oleh kondisi fundamental ekonomi Indonesia, dalam hal ini ialah angka konsumsi domestik. Kontribusi dari angka konsumsi domestik terhadap peningkatan IHSG akan jauh lebih besar di 2023 ini.

"Ada faktor kenaikan UMR yang lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya sehingga tingkat konsumsi akan lebih tinggi," katanya.

Faktor berikutnya ialah para investor yang cenderung mencari negara dengan pertumbuhan ekonomi yang lebih baik. Indonesia bisa dikatakan termasuk di dalamnya selaras dengan International Monetary Fund (IMF) menobatkan Indonesia sebagai salah satu negara G20 yang memiliki pertumbuhan lebih cepat.

"Ada tiga negara yang pertumbuhannya paling cepat di 2023. Pertama itu India, kedua Indonesia, baru yang ketiga adalah China. Jadi kalau para investor mencari growth di tengah resesi di negara maju, Indonesia juga akan menjadi salah satu negara yang punya growth bagus," ujarnya.

Kedua, ialah karena adanya gelaran Pemilu 2024. Samuel mengatakan, setiap diselenggarakannya pemilu, selalu ada kecenderungan pergerakkan uang akan naik. Hal ini akan mendorong pasar domestik untuk bisa menjadi andalan kembali.

Sementara itu, Chief Ecomomist & Investment strategist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia Katarina Setiawan mengatakan, aliran dana untuk gelaran Pemilu 2024 ini akan mulai dibelanjakan pada semester II 2023.

"Dana ini akan dibelanjakan di paruh kedua 2023 sebagian besar, dan akan sangat mendorong daya beli masyarakat dan perputaran ekonomi," kata Katarina.

Lebih lanjut Katarina menambahkan, dana pemilu kali ini jauh lebih besar dari dana pemilu di tahun-tahun sebelumnya, di mana anggarannya mencapai Rp 110,4 triliun. Hal ini disebabkan pemerintah menyatukan agenda pemilihan umum dalam satu waktu mulai dari Pemilu Presiden, DPR, DPRD, hingga Pilkada.

"Anggaran pemilunya Rp 110,4 triliun. Ini sekitar 2.5 kali anggaran pemilu yang lalu. Waktu itu di 2019 kita Pilpres di Rp 25,6 triliun, Pilkada 20 triliun, jadi total-toal kita 2,5 kalinya dari pemilu yang lalu," katanya.

Dengan dana sebesar ini, menurut Katarina, akan memberikan efek yang sangat besar bagi angka konsumsi di pasar domestik. Harapannya, kondisi ini juga mampu memberi sumbangsih besar pagi Produk Domestik Bruto (PDB) RI di 2023.

(dna/dna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT