Bumi Lakukan 'Kebohongan Publik'

Transaksi US$ 3,25 M Batal

Bumi Lakukan 'Kebohongan Publik'

- detikFinance
Jumat, 25 Agu 2006 12:07 WIB
Jakarta - Pelaku pasar menilai PT Bumi Resources Tbk (BUMI) telah melakukan 'kebohongan publik' yang luar biasa terhadap batalnya transaksi penjualan anak usahanya kepada PT Borneo Lumbung Energi senilai US$ 3,25 miliar.Pelaku pasar yang terbiasa melihat akrobat dari perusahaan milik kelompok Bakrie ini, tidak menduga bakal dipertontonkan lagi 'pertunjukan' yang mencla-mencle dari BUMI.PT Borneo pada 17 April 2006 membeli anak usaha Bumi yaitu 95 persen saham Kaltim Prima Coal (KPC), 99,99 persen saham PT Arutmin, 99,99 persen saham PT Indocoal Kalsel Resources, 99,99 persen saham PT Indocoal Kaltim Resources, dan 100 saham saham Indocoal Resources (Cayman) Limited.Namun tanpa alasan yang jelas, manajemen BUMI menyatakan pembatalan penjualan anak usaha karena negosiasi yang tidak ketemu dengan pihak Borneo."Ini bisa dibilang pembohongan publik luar biasa dan tidak etis. Secara aturan memang tidak salah, tapi investor melihat ada ketidakkonsistenan dari Kelompok Bakrie," kata Edwin Sinaga dari Kuo Capital Raharja, Jumat (25/8/2006).Edwin menilai dari awal memang terlihat ada kejanggalan terhadap transaksi ini jika dibandingkan dengan transaksi penjualan 40 persen saham PT HM Sampoerna Tbk oleh Putera Sampoerna kepada Philip Morris senilai US$ 2 miliar lebih pada Maret 2005."Sampoerna waktu jual saham melapor ke Wakil Presiden karena nilainya sangat besar. Ini penjualan BUMI yang 50 persen lebih besar tidak ada sounding ke pemerintah, ini kan aneh," kata Edwin.Menurutnya, Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) harus menyelidiki ada apa di balik batalnya transaksi penjualan ini, karena menyangkut kepentingan publik yang dijanjikan akan mendapat dividen dari hasil divestasi tersebut.Ketidakkonsistenan kelompok Bakrie, menurut Edwin, telah menjadi perhatian analis dan investor sejak dulu. Sehingga saham kelompok Bakrie kadang tidak dijadikan rekomendasi untuk investor yang benar."Kecuali para spekulator yang bisa menikmati saham Bakrie, kalau untuk investor fundamental saham Kelompok Bakrie bukan menjadi pilihan utama," imbuh Edwin. (ir/)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads