Kudeta Thailand
Pasar Finansial RI Tak Terganggu
Rabu, 20 Sep 2006 11:33 WIB
Jakarta - Krisis politik Thailand diperkirakan tidak akan berdampak serius terhadap pasar uang dan saham di Indonesia. Rontoknya rupiah dan indeks saham lebih dipicu oleh faktor internal.Kemungkinan Indonesia mendapatkan pelarian modal dari investor yang berlabuh di Thailand juga relatif kecil."Kudetanya mild, jadi kalau tidak ada kerusuhan perekonomian kita dan negara tetangga relatif stabil," kata Ferry Latuhihin, Chief Economist Bank International Indonesia (BII), kepada detikcom, Rabu (20/9/2006).Apalagi menurut Ferry, kudeta di Thailand sudah seringkali terjadi dan terbukti tidak mengganggu terlalu dalam perekonomian Negeri Gajah Putih tersebutFerry melihat, rontoknya rupiah hari ini lebih karena investor memanfaatkan momentum di Thailand untuk keluar. Karena sejak pekan lalu sudah ada indikasi investor keluar secara perlahan pascaturunnya tingkat imbal hasil (yield) obligasi mengikuti turunnya suku bunga SBI."Selama ini investor asing yang menguasai hot money US$ 7-8 miliar betah di Indonesia karena mendapat gain dari tingginya suku bunga dan yield dari obligasi," kata Ferry.Namun turunnya SBI yang kini di level 11,25 persen membuat yield obligasi ikut turun sehingga potensi mendapatkan gain mulai menyusut.Menurut Ferry, pelaku pasar lebih fokus pada kabar BI yang akan menurunkan lagi suku bunga jika pertemuan The Fed 20 September waktu AS tetap mempertahankan tingkat bunga 5,25 persen."Kalau SBI turun lagi selisih dengan the Fed makin mengecil dan ini dinilai tidak menarik buat investor hot money bertahan di Indonesia," katanya.Sementara turunnya pasar saham menurut Ferry karena mengekor pelemahan rupiah. Ferry memperkirakan, untuk jangka pendek rupiah akan berada di level 9.293 per dlar AS dan sampai akhir tahun di level 9.800 per dolar AS.
(ir/)











































