SBY: Utang RI di Luar Kepantasan
Rabu, 20 Sep 2006 18:30 WIB
Jakarta - Akibat krisis ekonomi, utang Indonesia terus membengkak. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun mengakui bahwa utang Indonesia saat ini meski sudah cenderung turun, namun di luar kepantasan.Untuk itu, pembangunan harus menyentuh tiga isu fundamental yakni kemiskinan, pengangguran dan utang."Pembangunan harus mengurangi angka kemiskinan, pengangguran dan utang yang sudah diluar kepantasan kita untuk memenuhi kewajiban membayar utang," ujar Presiden SBY saat membuka kongres ke-XVII Persatuan Insiyur Indonesia di Plasa Parkir Timur, Jakarta, Rabu (20/9/2006).SBY mengakui bahwa Indonesia saat ini memang masih termasuk negara berkembang yang tingkat kemiskinan, penganggurannya masih tinggi. Sementara layanan pendidikan, kesehatan dan infrastruktur masih kurang. "Saat ini memang jauh lebih baik dari 30 tahun lalu. Tetapi belum baik dibandingkan negara maju," jelas SBY.Rasio utang Indonesia pada tahun 2000 mencapai 80 persen. Pada tahun-tahun berikutnya meski masih tinggi namun terus berkurang yakni menjadi 53 persen pada tahun 2004, 48 persen pada tahun 2005. Rasio utang pada tahun 2006 diprediksi jauh lebih rendah karena perbaikan nilai tukar rupiah. "Tapi bagaimanapun, utang itu masih besar, harus terus kita kurangi terus menerus," ujar SBY.Ia juga menyoroti masalah investasi yang belum datang ke Indonesia. Investor asing lebih memilih untuk berinvestasi dk negara lain seperti Vietnam, Cina dan India yang memiliki iklim investasi yang lebih baik dibandingkan Indonesia.
(qom/asy)











































