Privatisasi Jasa Marga Juni
Jumat, 30 Mar 2007 15:00 WIB
Jakarta - Privatisasi PT Jasa Marga (persero) hampir pasti dilakukan pada bulan Juni 2007. Proses privatisasi hanya tinggal menunggu keputusan dari DPR. Hal ini dikatakan oleh Direktur Utama perseroan Frans Sunito usai salat Jumat di Kantor Departemen Keuangan, Jl. Lapangan Banteng, Jakarta, Jumat (30/3/2007)."Alhamdullilah, proses privatisasi sudah berjalan, mudah-mudahan selesai di DPR dalam waktu dekat. Mudah-mudahan DPR memberi persetujuan, kalau persetujuan keluar kita bisa lanjut," jelasnya. Frans menambahkan, Jasa Marga menargetkan Initial Public Offering (IPO) bisa dilakukan pada bulan Juni 2007. "Jadi maksimum saham yang akan dilepas adalah 30 persen dengan harapan akan mendapatkan dana segar berjumlah Rp 2,5 triliun," imbuhnya.Penjamin emisi (underwritter) saat ini masih dalam proses penunjukkan. "Karena penjamin emisi ini adalah kewenangan Menteri BUMN, saya tidak bisa memberitahunya sekarang, tapi sudah diproses. Jadi begitu ada keputusan akan saya beri tahu, prosesnya tidak lama lagi kok," ujarnya.Meskipun begitu, Frans mengatakan bahwa pihaknya tetap menyiapkan laporan keuangan perseroan kuartal I 2007 untuk persiapan jika ada kemunduran dari target semula. "Kita akan persiapkan data Maret 2007, tapi mudah-mudahan masih bisa memakai laporan keuangan Desember 2007 yang sudah kita keluarkan," jelasnya.Jasa Marga pada tahun 2007 akan membangun beberapa proyek jalan tol. "2007 kita mulai dari tol Bogor Ring Road, Semarang-Bawean dan Gempol-Pasuruan. Capex-nya sekitar Rp3-4 triliun yang sumber dananya kita dapatkan dari hasil IPO ini dan pinjaman baru dari bank," jelasnya.Sebelumnya, Frans mengatakan bahwa Jasa Marga berencana melakukan pinjaman dari bank sebesar Rp 7 triliun untuk proyek pembangunan jalan tol ini, serta menerbitkan obligasi Rp 1 triliun untuk melakukan refinancing terhadap utang-utangnya."Dengan adanya tambahan dana Rp 2,5 triliun dari hasil IPO ini, leverage perseroan akan meningkat. Kita jadi bisa melakukan pinjaman sekitar Rp 7 triliun dari bank," ujarnya.
(dnl/qom)











































