Dirut Baru Ditunjuk
Thobrani Tinggalkan Timah
Selasa, 17 Apr 2007 15:44 WIB
Jakarta - Thobrani Alwi yang selama lima tahun memegang pucuk pimpinan PT Timah Tbk (TINS) sejak 14 Maret 2002 kini harus menyerahkan jabatannya kepada Wachid Usman.Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) PT Timah Tbk menghentikan dengan hormat jajaran direksi dan komisaris perusahaan karena masa tugasnya telah habis.RUPSLB juga menunjuk direksi dan komisaris baru perseroan untuk periode 2007-2010. Barisan direksi baru hasil RUSPLB Timah adalah Dirut Wachid Usman (sebelumnya Direktur Keuangan). Direktur Operasi Setyo Sardjono (baru), Direktur Keuangan Krisna Sarif (baru), Direktur SDM dan Umum Surawardi (tetap) serta Direktur Niaga dan Pengembangan Usaha Gatut Hari Prasetio (baru).RUSPLB juga menetapkan jajaran komisaris baru yakni Komut Wimpy S. Tjetjep (tetap). Komisaris Ari Fauzi (sebelumnya direktur). Serta dua komisaris independen Ismerda Lebang dan Fachri Ali.Wachid menyatakan, kedepan perseroan akan meningkatkan eksplorasi timah di laut pada kedalaman lebih dari 26 meter. Hal ini memungkinkan karena harga timah yang tinggi membuat ongkos produksi penambangan tersebut menjadi lebih ekonomis."Dulu ketika harga US$ 7.500 per ton penambangan lebih dari 26 meter tidak ekonomis. Tapi sekarang harga sudah US$ 12 ribu menjadi lebih ekonomis," kata Wachid.Kedepannya perseroan juga akan mempersilahkan masyarakat untuk menambang di Kuasa Pertambangan (KP) PT Timah. Dengan syarat harus mengikuti aturan yang berlaku.Selama ini, aku Wachid, PT Timah selalu kesulitan membuka tambang darat karena direcoki masyarakat. Tambang-tambang darat tersebut nantinya akan diserahkan ke kontraktor dan diawasi oleh pengawas PT Timah.Tahun ini Timah memiliki kapasitas produksi 45 ribu ton, diperkirakan total produksi tersebut akan terserap sepenuhnya karena permintaan pasar yang tinggi.Wachid juga mengatakan, dividen sebesar 50 persen tahun memang akan berpengaruh ke capex yang sebesar Rp 410 miliar."Kita akan mengurangsi proyek pengembangan usaha akan dikaji lagi realisasinya, target capex Rp 410 miliar tidak akan dipaksakan," kata Wachid.
(ir/qom)











































