Menkeu Prihatin Banyak Emiten Pilih Go Private
Sabtu, 19 Mei 2007 12:08 WIB
Yogyakarta - Pemerintah merasa prihatin terhadap banyaknya emiten yang memilih keluar dari lantai bursa alias go private. Padahal pemerintah kini tengah merancang sejumlah insentif agar perusahaan mau melakukan go public.Hal tersebut diungkapkan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani di sela-sela acara makan malam bersama wartawan di sebuah rumah makan di Yogyakarta, Jumat (19/5/2007) malam. "Setiap saya melihat kepada perusahan yang memutuskan untuk go private, itu concern buat saya. Kenapa itu? karena berarti dia tidak merasa benefit-nya untuk berada di bursa," ujarnya. Sri Mulyani mengaku, dirinya sudah meminta Bapepam untuk mencari cara agar para emiten dapat bertahan di pasar modal. Ia meminta regulator untuk memperhatikan emitan yang dengan sukarela melakukan go private. "Saya juga meminta Bapepam untuk memikirkan bahwa menjadi perusahaan publik itu akan memiliki insentifm nilai atau status yang berbeda. Itu pentingkan, karena nantinya perusahaan-perusahaan itu tidak hanya mencari survival tapi juga reputasi," jelasnya. Hal itu penting karena jika perusahaan memilih keluar dari bursa karena banyaknya biaya, maka pemerintah akan menghadapi masalah yang serius. "Itu tanda-tanda serius dengan apa yang kita sebut competitiveness as well as benefit-nya untuk go public. Jadi kalau mereka (emiten) menilai go public itu lebih banyak biaya, compliance cost dan effort-nya, maka kita akan mempunyai masalah yang serius," ungkapnya. Dari segi reputasi, menurutnya, perusahaan yang telah go public itu bisa menggambarkan kepada masyarakat bahwa mereka adalah perusahaan yang bisa diandalkan. "Jadi saya meminta kepada Bapepam bekerjasama dengan seluruh SRO (Self Regulatory Organization) untuk selalu melihat bahwa bursa kita make sure masih kompetitif dan atraktif. Itu tugas kita," jelasnya. Jadi menurutnya, Bapepam dan BEJ harus terus memikirkan hal ini dan mencari jalan keluar dari hal ini. "Karena hanya negara yang bisa menciptakan pasar modal yang cukup dalam dan sehat, dan pasar uang dan obligasi yang bagus adalah yang biasanya lebih tahan terhadap berbagai goncangan," ujarnya.
(dnl/qom)











































