IHSG Dapat 'Obat Kuat' dari BNI

Guncangan Belum Usai

IHSG Dapat 'Obat Kuat' dari BNI

- detikFinance
Senin, 13 Agu 2007 07:58 WIB
Jakarta - Gejolak di pasar saham belum usai. Masih melemahnya Wall Street pada black Friday pekan lalu akan menjadi sentimen negatif kembali untuk pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).Pada perdagangan Jumat (10/8/2007) akhir pekan lalu, Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup kembali melorot hingga 127,47 poin (0,96%) ke level 13.143,21. Demikian pula Nasdaq turun hingga 23,51 poin (0,92%) ke level 2.532,98 dan Standard & Poor's 500 turun 12,43 poin (0,86%) ke level 1.440,66.Bursa-bursa Eropa pun ikut rontok. Indeks FTSE 100 juga ditutup turun 3,71%, CAC 40 Paris turun 3,13% dan Dax Franfurt turun 1,48%.Gejolak itu memaksa bank-bank sentral untuk melakukan intervensi besar-besaran. Federal Reserve bahkan harus menyuntikkan hingga US$ 35 miliar, yang merupakan tertinggi sejak tragedi 9/11. Suntikan itu berarti lebih dari separuh cadangan devisa Indonesia yang kini mencapai US$ 51 miliar.Disamping masalah kredit sektor perumahan AS yang belum juga usai, investor tengah menunggu sejumlah data perekonomian pada pekan ini. "Pekan ini, semuanya adalah tentang ekonomi. Kami memiliki banyak data perekonomian yang akan segera keluar. Jika ekonomi masih berada pada sisi yang positif, maka bisa memudarkan kekhawatiran bahwa perekonomian akan tumbuh lebih lambat," ujar Peter Cardillo, analis dari Avalon Partners. Bagaimana pergerakan IHSG? Pada Senin (13/8/2007) diperkirakan IHSG belum akan pulih. Dinaungi sentimen negatif dari Wall Street, IHSG diperkirakan masih akan melemah.Namun kehadiran saham baru BNI dipasar diharapkan bisa membawa angin segar.Selain itu, rebound sejumlah bursa saham seperti Nikkei-225 diharapkan mampu membawa sentimen positif di pasar.Berikut rekomendasi saham untuk hari ini:Bhakti Securities:Indeks selama sepekan kemarin terkoreksi 2,7% menjadi 2,207 dipengaruhi oleh belum pulihnya pasar keuangan dunia akibat kasus subprime mortgage. Indeks pada pekan ini kami pekirakan masih akan bergerak variatif dengan kecendrungan melemah mengikuti pergerakan bursa regional. Kisaran indeks sepekan 2,140-2,273. Optima Investama:Efek subprime ternyata masih berlanjut namun investor rupanya tidak panic selling lagi sehingga indeks hanya turun 1.5%. Investor asingpun terlihat masih net buy yang menunjukan bahwa fundamental ekonomi Indonesia memang on the track. Indeks diperkirakan akan menunggu rilis data GDP dalam minggu ini yang diperkirakan naik dari kuartal I sedangkan pergerakan hari ini masih mengikuti Dow dengan kisaran 2.170-2.220 dengan saham pilihan: BUMI, UNSP, PGAS dan TLKM. (qom/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads