Asia Tetap Waspadai Krisis Subprime Mortgage AS
Sabtu, 08 Sep 2007 11:20 WIB
Sydney - Meski relatif tidak terkena dampaknya, pemerintah negara-negara Asia mesti tetap mewaspadai krisis subprime mortgage di Amerika Serikat.Institusi keuangan baik itu bank maupun lembaga keuangan di Asia tidak terkena dampak langsung dari krisis kredit perumahan karena mereka tidak mempunyai aset di sektor subprime yang bernilai besar. Namun jika krisis tersebut membuat ekonomi AS turun drastis, maka ekonomi AS juga akan terkena dampaknya.Hal tersebut disampaikan Presiden Bank Pembangunan Asia Haruhiko Kuroda dalam jumpa pers di sela-sela pertemuan Asia-Pacific Economic Cooperation di Opera House Sydney, Australia, Jumat (7/9/2007)."Namun saya tekankan pada saat ini perlambatan di AS relatif kecil, dan ekonomi Asia tidak terkena dampak yang serius. Malah beberapa negara mengalami pertumbuhan yang terlalu cepat, namun kita mesti tetap berhati-hati, waspada, dan terus memonitor perkembangan pasar keuangan di AS," ujarnya.Pinjaman pembiayaan rumah bagi masyarakat berisiko tinggi atau disebut subprime mortgage menurut Kuroda hanyalah sebagian kecil dari portfolio kredit di AS.Bank sentral di seluruh dunia seperti The Fed, Bank Sentral Eropa dan Jepang sudah menyediakan likuiditas yang cukup di pasar dunia. "Secara global, pasar keuangan sudah agak stabil, tapi pada saat ini, kita tidak tahu secara tepat apa dampak persis dari masalah ini ke sektor keuangan AS dan ekonomi AS secara keseluruhan," ujarnya. Sementara itu seperti dilansir AFP, perusahaan hipotik di AS terus menjadi korban krisis subprime mortgage. Giliran perusahaan hipotik terbesar di AS, Countrywide Financial, terpaksa mem-PHK 12.000 karyawannya dalam beberapa bulan mendatang."Kami mengambil langkah ini untuk memastikan supaya Countrywide bisa mempertahankan kesuksesannya," ujar CEO Countrywide Angelo Mozilo seperti dilansir AFP, Sabtu (8/9/2007).Perdagangan saham Countrywide pada Jumat kemarin ditutup melemah 1,5 persen menjadi US$ 18,21 per saham.Countrywide meminjam dana US$ 11,5 miliar dari 40 bank pada pertengahan Agustus untuk meningkatkan aset yang tertekan akibat macetnya kredit rumah.Rendahnya permintaan hipotik rumah menjadi alasan pemecatan itu. Namun pihak manajemen menekankan jika pasar rumah membaik, karyawan yang dipecat tidak akan mencapai 12.000 orang atau 20 persen dari total karyawan Countrywide.Perusahaan asal California itu kini tengah memulihkan kondisi bisnisnya. Countrywide juga memikirkan untuk menghentikan pemasaran beberapa pinjaman subprime mortgage.Krisis subprime mortgage masih melanda di AS, para ekonom AS sebagian besar masih pesimis pasar rumah di AS akan kembali pulih dalam waktu yang dekat.
(ddn/ddn)











































