Dua Kapalnya Terjebak di Selat Hormuz, Pertamina Buka Suara

Dua Kapalnya Terjebak di Selat Hormuz, Pertamina Buka Suara

Ilyas Fadilah - detikFinance
Selasa, 03 Mar 2026 20:50 WIB
Birds fly near a boat in the Strait of Hormuz amid the U.S.-Israeli conflict with Iran, as seen from Musandam, Oman, March 2, 2026.REUTERS/Amr Alfiky
Selat Hormuz yang ditutup Irang sebagai jawaban atas serangan militer Amerika Serikat dan Israel.Foto: REUTERS/Amr Alfiky
Jakarta -

PT Pertamina (Persero) menyampaikan kabar terkini kondisi dua kapal tanker milik anak usahanya, PT Pertamina International Shipping yang terjebak di selat Hormuz. Pertamina memastikan kapal dan para awaknya berada dalam kondisi aman.

Hal ini diungkap langsung Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron. Selat Hormuz sendiri ditutup oleh Iran usai negaranya diserang Amerika Serikat (AS) dan Israel. Kapal yang memaksa melintas terancam ditembak.

"Sampai dengan saat ini kondisi masih aman. Kami berkoordinasi dan berterima kasih kepada seluruh stakeholder, baik dari Kementerian Luar Negeri maupun pihak-pihak terkait yang bisa menyampaikan atau mengamankan aset kami dan para awak yang berada di sana," kata Baron di kantor pusat Pertamina, Jakarta, Selasa (3/3/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Baron, Kapal Pertamina yang berada di sekitar kawasan Selat Hormuz sebenarnya berjumlah empat. Tapi dua kapal tanker lainnya sudah berada di luar selat tersebut.

Baron menyatakan bahwa pihaknya terus terus memantau perkembangan situasi yang terjadi. Pertamina juga berkomitmen memastikan keselamatan awak kapal sekaligus menjaga aset mereka yang terjebak di Selat Hormuz.

ADVERTISEMENT

"Memang benar ada dua kapal Pertamina yang masih berada di sana. Jadi ada empat tapi yang dua berada di luar Selat Hormuz. Jadi saat ini kami terus memantau dan memastikan yang pertama adalah keselamatan dari para kawak kapal, kemudian juga terkait dengan aset kapal yang berada di sana," ujar Baron.

Selat Hormuz merupakan jalur ekspor minyak terpenting di dunia, yang menghubungkan produsen minyak Teluk terbesar, seperti Arab Saudi, Iran, Irak, dan Uni Emirat Arab, dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Kini jalur tersebut ditutup otoritas Iran di tengah perang yang terjadi dengan AS dan Israel.

(ily/hns)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads