×
Ad

IHSG Pecah Rekor & Harga Bitcoin Lompat Usai AS Serang Venezuela

Andi Hidayat - detikFinance
Selasa, 06 Jan 2026 06:30 WIB
Ilustrasi/Foto: ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA
Jakarta -

Pasar keuangan tampak tidak terlalu terpengaruh oleh panasnya konflik Amerika Serikat (AS) dan Venezuela. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan harga Bitcoin (BTC) justru melesat pada Senin (5/1).

Berdasarkan data perdagangan RTI Business, IHSG ditutup menguat bahkan menembus rekor tertinggi sepanjang sejarah atau All-Time High (ATH) di level 8.859,19 atau naik 1,27%. Pada awal pembukaan, diketahui IHSG berada di level 8.778,73, kemudian menyentuh level terendahnya di posisi 8.732,31.

Pengamat Pasar Modal, Reydi Octa, menilai konflik AS-Venezuela belum bersifat sistemik terhadap stabilitas pasar keuangan. Di sisi lain, konflik kedua negara tersebut justru memberi sentimen positif terhadap sektor tertentu seperti migas dan minyak.

"Konflik AS-Venezuela lebih berdampak pada sentimen di komoditas seperti minyak dan emas dibandingkan saham secara keseluruhan. Penguatan saham-saham energi dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak sebagai respon dari tensi geopolitik. Sementara emiten emas menjadi sasaran investor untuk berinvestasi di tengah ketidakpastian," ungkap Reydi kepada detikcom, Senin (5/1/2026).

Meski begitu, Reydi menilai penguatan sektor migas dan emas hanya bersifat jangka pendek. Pasalnya tanpa dukungan fundamental dan tren harga komoditas, tren kenaikan tetap bersifat sementara.

"Kenaikan ini bisa bersifat jangka pendek, keberlanjutannya tergantung dari konflik yang berlarut-larut atau tidak, tanpa dukungan fundamental dan tren harga komoditas, tren kenaikan akibat dari tensi AS Venezuela akan bersifat sementara," imbuhnya.

Dihubungi terpisah, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengatakan konflik AS-Venezuela turut meningkatkan ketidakpastian global yang berpotensi meningkatkan volatilitas pasar keuangan. Ia bahkan menyebut kondisi kerap kali mendorong pergeseran ke aset aman seperti emas.

Meski begitu, IHSG berhasil menguji ketahanannya dengan apresiasi yang ditopang saham-saham berbasis komoditas. Pergerakan IHSG juga turut tersengat sentimen positif dari perilisan data makro ekonomi domestik yang baru saja diumumkan Badan Pusat Statistik (BPS).

Berdasarkan data BPS, diketahui inflasi Indonesia pada Desember 2025 sebesar 0,64% (month-to-month/mtm) dan 2,92% (year-on-year/yoy). Menurut Nafan, inflasi yang terjadi ini wajar terjadi lantaran ekonomi Indonesia mulai bergeliat jelang perayaan hari besar seperti Imlek dan lebaran.

"Aktivitas konsumsi domestik itu sudah semakin menggeliat, jadi wajar saja karena kita juga menjelang Imlek, menjelang masuk periode bulan suci Ramadhan kemudian lebaran, tentunya domestic consumption tercipta. Belum lagi sebelumnya perayaan Natal dan Tahun Baru. Itu yang membuat inflasi kita naik, jadi wajar," imbuhnya.




(ahi/acd)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork