Rupiah Keok Digebuk Dolar AS, Purbaya Langsung Buka Suara

Rupiah Keok Digebuk Dolar AS, Purbaya Langsung Buka Suara

Heri Purnomo - detikFinance
Rabu, 14 Jan 2026 13:17 WIB
Rupiah Keok Digebuk Dolar AS, Purbaya Langsung Buka Suara
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.Foto: Ilyas Fadilah/detikcom
Jakarta -

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa buka suara soal niliai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang alami pelemahan hingga mencapai level Rp 16.860-an.

Purbaya mengatakan bahwa nilai tular rupiah yang melemah ini hanya akan sementara. Ia bilang rupiah akan berbalik menguat seiring dengan membaiknya kondisi perekonomian nasional.

Ia mengungkapkan nilai tukar rupiah akan kembali menguat dalam dua minggu ke depan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dua minggu ini (akan menguat). Kalau nanti ekonominya membaik terus, harusnya rupiah akan menguat juga, hampir otomatis. Kenapa? Karena orang modal modal asia akan masuk, mereka akan masuk ke tempat yang negara yang janjikan pertumbuhan lebih tinggi," kata Purbaya saat ditemui di Menara Global, Rabu (14/1/206).

Purbaya menjelasakan, bahwa kinerja ekonomi Indonesia menunjukkan tren yang positif, dimana pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV 2024 diperkirakan berada di kisaran 5,4%.

ADVERTISEMENT

"Tahun-tahun ini mungkin kita bisa tumbuh ke arah 6%. Kita akan dorong ke arah sana, jadi kalau itu sudah mereka yakin, jadi anda nggak usah takut fondasi kuat, rupiah akan masuk, karena modal akan masuk sini dan orang-orang Indonesia yang ngeluarin uangnya di sana keluar negeri juga akan balik. Kenapa? Dia akan berbisnis di sini, karena orang Indonesia nggak bisa berbisnis di luar negeri, karena nggak bisa bersaing sehat di sana," terang Purbaya.

Sementara itu, Bank Indonesia (BI) buka-bukaan penyebab rendahnya nilai tukar rupiah. Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin G. Hutapea mengatakan pergerakan mata uang global pada awal 2026 ini, termasuk Indonesia banyak dipengaruhi oleh meningkatnya tekanan di pasar keuangan dunia.

"Tekanan tersebut bersumber dari eskalasi tensi geopolitik, kekhawatiran terhadap independensi bank sentral di sejumlah negara maju, serta ketidakpastian arah kebijakan moneter The Fed ke depan, di tengah kebutuhan valuta asing domestik yang meningkat pada awal tahun," kata Erwin dalam keterangan tertulis, Rabu (14/1/2026).

Kondisi tersebut mendorong rupiah melemah dan ditutup pada level 16.860 per dolar AS pada 13 Januari 2026, atau terdepresiasi sebesar 1,04% secara year-to-date. Erwin juga menilai pelemahan rupiah masih sejalan dengan pergerakan nilai tukar regional yang juga terdampak sentimen global, antara lain won Korea yang melemah sebesar 2,46% dan peso Filipina sebesar 1,04%.

Dia menekankan, BI akan konsisten menjaga stabilitas nilai tukar, sehingga dapat menjaga stabilitas dan mendukung pertumbuhan ekonomi. Menurutnya, stabilitas nilai tukar rupiah akan tetap terjaga karena konsistensi kebijakan stabilisasi Bank Indonesia yang terus dilakukan secara berkesinambungan melalui intervensi NDF di pasar off-shore di kawasan Asia, Eropa, dan Amerika, serta intervensi di pasar domestik melalui transaksi spot, DNDF, dan pembelian SBN di pasar sekunder.

Selain itu, berlanjutnya aliran masuk modal asing, terutama ke instrumen Sekuritas rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan pasar saham yang secara neto mencapai Rp 11,11 triliun pada Januari 2026 juga mendukung terkendalinya stabilitas rupiah.

"Hal ini sejalan dengan persepsi investor global terhadap Indonesia yang tetap positif, tercermin dari premi risiko CDS Indonesia tenor 5 tahun yang berada pada level rendah, sekitar 72 bps," kata Erwin.

Tonton juga video "KPK Sebut Purbaya Dukung OTT Meski Anak Buahnya Ikut Diamankan"

(hrp/hns)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads