Nilai tukar rial Iran anjlok ke level terendah sepanjang sejarah hingga menjadikannya sebagai mata uang terlemah. Hal itu membuat barang-barang kebutuhan pokok menjadi tidak terjangkau bagi sebagian besar penduduk hingga menyebabkan munculnya gelombang demonstrasi yang masih berlanjut hingga saat ini.
Dilansir dari Bloomberg, Kamis (15/1/2026), nilai rial merosot sekitar 45% terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada tahun 2025. Kondisi itu membuat impor termasuk gandum, minyak goreng dan bahan-bahan farmasi menjadi lebih mahal hingga direspons oleh pedagang dengan menaikkan harga.
Menurut Dana Moneter Internasional (IMF), inflasi Iran rata-rata sekitar 42% pada tahun 2025 atau meningkat dari 33% pada 2024. Banyak warga sudah kesulitan memenuhi kebutuhan pangan mereka hingga media lokal melaporkan setengah dari populasi mengkonsumsi kurang dari standar 2.100 kalori per hari.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Industri nasional telah merosot karena korupsi dan salah urus," tulis pemberitaan Bloomberg.
Tidak hanya soal pangan, kemarahan warga Iran yang meluas juga akibat kekurangan gas dan listrik, serta salah urus sumber daya alam (SDA) negara. Pemerintah menyesuaikan mekanisme subsidi bahan bakar minyak (BBM) pada Desember 2025 yang menyebabkan kenaikan harga hingga menambah biaya bagi rumah tangga dan bisnis.
Nilai Rial Iran dalam Rupiah
Berdasarkan kalkulator kurs milik Wise, Rp 1 senilai 2,49 riyal Iran. Sementara berdasarkan kalkulator kurs milik XE, Rp 1 senilai 63 riyal Iran. Jika berdasarkan perhitungan kalkulator milik Google, Rp 1 senilai 63,12 riyal Iran, tidak jauh berbeda dengan kalkulator milik XE. Jadi kalau punya Rp 1.000, sama dengan 63.000 riyal Iran.
Kurs Iran Anjlok Sejak 2024
Berdasarkan pemberitaan Euro News, kurs nasional Iran pada Februari 2024 turun sekitar 13% sejak Januari 2024 dan terus anjlok sejak konflik Israel-Hamas pecah pada Oktober 2023. Hanya saja pemerintah Iran memilih mengabaikan nilai tukar mata uang global.
Kementerian Urusan Ekonomi dan Keuangan saat itu menyatakan "Kami tidak mengakui nilai tukar pasar bebas secara resmi". Lewat pernyataan itu, pemerintah Iran hanya mengakui nilai tukar pemerintah yang diatur oleh Iran Center for Exchange sebagai nilai tukar resmi.
Menurut pemerintah, strategi itu untuk menjaga Riyal tetap stabil di pasar mata uang internasional. Pemerintah mengklaim strategi yang dilakukan berhasil, namun kenyataan di pasar menunjukkan sebaliknya karena mata uang asing dengan kurs pemerintah yang lebih rendah sulit didapatkan, sebagian besar orang terpaksa beralih ke pasar gelap untuk mendapat dolar AS.
Langkah itu tentunya berisiko karena pemerintah Iran telah menindak sejumlah transaksi yang dinilai tidak sah termasuk pertukaran yang dilakukan secara virtual. Kantor pertukaran di ibu kota Teheran juga tidak boleh membagikan kurs kepada publik, juga tidak boleh menjual mata uang asing ke publik.
Iran Wire melaporkan, warga Iran juga menghadapi sejumlah pembatasan transfer riyal dari rekening bank domestik. Situasi semakin sulit saat pemerintah Iran lewat bank sentral memutuskan penghapusan total sistem pertukaran mata uang asing NIMA, pasar sekunder yang diatur pemerintah untuk eksportir dan importir, yang nilainya berada di antara kurs resmi dan pasar bebas. Sistem NIMA diluncurkan karena pemerintah kekurangan mata uang asing.
Situasi ini berarti eksportir harus menjual mata uang asing di pasar yang dikendalikan oleh bank sentral dengan nilai tukar yang lebih rendah dibandingkan nilai tukar pasar terbuka. Importir dan eksportir kini berdagang berdasarkan nilai tukar yang disepakati bersama dan secara efektif menghilangkan sistem yang sebelumnya memungkinkan pembelian dolar dengan nilai tukar yang rendah dibandingkan pasar terbuka dan pasar NIMA.
Tonton juga video "Iran Pastikan Tak Ada Demonstran yang Dieksekusi Hukuman Mati"
(aid/fdl)










































