Chief Investment Officer Danantara, Pandu Sjahrir meminta regulator melakukan perbaikan usai anjloknya IHSG. IHSG tersungkur setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) merilis pengumuman terkait metodologi penghitungan free float.
Pandu mengatakan, Indonesia terancam turun kelas dari emerging market atau negara berkembang menjadi frontier market atau pasar keuangan yang berada di bawah level tersebut. Frontier market setara dengan negara seperti Nigeria hingga Bangladesh.
"Saya lagi baca list frontier market, karena kan persiapannya ke frontier market sekarang. Ada negara seperti Bangladesh, Burkina Faso, Niger, Pakistan, Senegal, Togo, Tunisia. Mungkin ini cita-cita dari regulasi, saya nggak tahu. Saya serahkan balik kepada regulator, karena ini sudah fakta," ujar Pandu dalam Prasasti Economic Forum 2026 di The Ritz-Carlton Pacific Place, Jakarta, Kamis (29/1/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: OJK Bakal Turuti Kemauan MSCI |
Jika sampai turun kelas ke frontier market, dana asing yang keluar bisa mencapai US$ 25-50 miliar. Jika dirupiahkan, angka tersebut setara Rp 417, 50 triliun sampai Rp 835 triliun (kurs Rp 16.700).
"Kalau untuk perubahan dari market sekarang ke frontier market, kurang lebih US$ 25-50 billion outflow. Ya saya serahkan balik kepada regulator bagaimana mereka mau bekerja di sini," sebut Pandu.
Meski begitu, Pandu menilai rilis yang disampaikan MSCI sudah tepat sekaligus momen bagi regulator untuk berbenah. Ia meminta regulator tidak menyalahkan pihak mana pun melainkan fokus bekerja menindaklanjuti pengumuman MSCI.
"Apa yang terjadi tiga hari ke belakang menjadi pengingat penting, mungkin kita butuh itu. Kayak mandi pakai air dingin, karena setelah masuk air dingin, 2 derajat, 3 derajat, pasti langsung segar. Jadi ini merupakan wake up call untuk kita semua. Yuk kita perbaiki diri kita, tapi secara cepat, secara lugas. Dan ini menurut saya bagus sekali kok," bebernya.
Sebelumnya, MSCI menetapkan sejumlah perubahan indeks review pada Februari 2026 mendatang. Perubahan sementara untuk pasar Indonesia mencakup tiga hal, pertama pembekuan seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS).
Kedua, pembekuan penambahan konstituen ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI). Ketiga pembekuan perpindahan naik antar-indeks segmen ukuran, termasuk dari Small Cap ke Standard.
Dalam pengumumannya, MSCI menyebut ketetapan ini dilakukan untuk mengurangi index turnover dan risiko kelayakan investasi (investability). Ketetapan ini juga sekaligus memberi waktu bagi otoritas pasar untuk menghadirkan perbaikan transparansi.
"Perawatan ini bertujuan untuk mengurangi risiko pergantian indeks dan risiko kelayakan investasi sambil memberikan waktu bagi otoritas pasar yang berwenang untuk menerapkan perbaikan transparansi yang signifikan," tulis pengumuman MSCI, dikutip Rabu (28/1/2026).
Jika tidak ada perbaikan hingga Mei 2026, MSCI akan mengevaluasi kembali status akses pasar Indonesia. Langkah ini dilakukan dengan memperhatikan penurunan bobot dalam Indeks Pasar Emergen MSCI untuk semua sekuritas Indonesia dan potensi reklasifikasi Indonesia dari status Pasar Emergen ke Pasar Frontier.










































