Lembaga keuangan dan bank investasi global, Goldman Sachs menurunkan peringkat pasar modal Indonesia dari market weight menjadi underweight. Penurunan peringkat dilakukan menyusul tuntutan transparansi free float dalam pengumuman MSCI.
Menanggapi hal tersebut, Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa (AB) Bursa Efek Indonesia (BEI), Irvan Susandy, mengaku hal tersebut akan memicu outflow atau aliran dana keluar dari pasar modal. Diketahui, penurunan perangkat ini disebut berpotensi mendorong outflow miliaran dolar.
"Angka underweight ya, ya konsekuensinya kan outflow," ungkap Irvan di Gedung BEI, Jakarta Selatan, Kamis (29/1/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mengaku Self-Regulatory Organization (SRO) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menetapkan beberapa langkah untuk meningkatkan kepercayaan pasar. Sejumlah langkah tersebut mencakup pengajuan proposal perbaikan mengenai informasi free float saham, membuka informasi kepemilikan saham investor di bawah 5%, dan meningkatkan batas free float menjadi 15%.
"Harapannya langkah-langkah ini tidak hanya menjawab MSCI tapi juga meningkatkan confidence investor asing atas apa yang dilakukan oleh SRO dan OJK. Harapannya nanti mereka akan revise," imbuhnya.
Goldman Sachs menurunkan peringkat saham Indonesia menjadi 'underweight' dari 'market weight'. Pemangkasan ini dilakukan menyusul pengumuman MSCI yang menjadi sentimen utama anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan aksi jual investor asing.
"Kami memperkirakan pasar akan tetap berada di bawah tekanan dan tidak melihat ini sebagai titik masuk," kata para ahli strategi Goldman Sachs dikutip dari Business Times, Kamis (29/1/2026).
Goldman Sachs juga memperkirakan net sell IHSG mencapai US$ 2,2 miliar. Pada skenario terburuk, net sell bahkan bisa mencapai US$ 7,8 miliar.
Simak juga Video: Purbaya Bakal Geruduk BEI Jika IHSG Belum Pulih Sebelum Maret











































