Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa, mengklaim kecil kemungkinan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melemah. Sebaliknya, ia menilai IHSG saat ini memiliki ruang untuk tumbuh lebih kencang.
Sebagai informasi, IHSG pada penutupan perdagangan Jumat (30/1) kemarin berada di level 8.329,60. IHSG kembali menguat usai melemah tajam pada dua hari perdagangan sebelumnya.
"Kita masih 83 (8.300), ya. Artinya ruang ke depan masih terbuka luas untuk naik. Kan saya bilang, seperti saya pernah bilang kan, kan siklus bisnis naik-turun kan, dari titik terendah ke titik tinggi, puncak bisnis," ungkap Purbaya kepada wartawan di Wisma Danantara, Jakarta, Sabtu (31/1/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menyebut, kecil kemungkinan IHSG akan terkoreksi lagi. Pasalnya, Indonesia memiliki fondasi ekonomi yang baik dan arah kebijakan pemerintah sejalan otoritas pasar keuangan.
"Saya pikir peluangnya kecil. Fondasi bagus, kinerja kita respons kebijakan dari Bursa maupun OJK. Cepat, nggak ada kacauan, harusnya ini akan merupakan modal yang kuat sekali untuk tumbuh lebih kencang," pungkasnya.
Sebagai informasi, perdagangan saham sebelumnya sempat dihentikan sementara atau trading halt usai IHSG melorot 8% pada perdagangan Rabu (28/1) dan Kamis (29/1). Pada Rabu, trading halt diambil BEI pada pukul 13.43 WIB hingga 14.13 WIB.
Hingga penutupan perdagangan Rabu, IHSG ditutup melemah 7,35% ke level 8.320,55. Saat itu, IHSG tertekan aksi jual atau net sell investor asing hingga Rp 6,17 triliun sepanjang perdagangan Rabu.
Kemudian trading halt kedua diambil pada perdagangan sesi I saat IHSG juga melemah 8%. Langkah ini diambil pukul 09.26 WIB hingga 09:56 WIB tanpa ada perubahan jadwal perdagangan.
Saat itu IHSG juga terkoreksi hingga 1,06% ke level 8.232,20 pada penutupan perdagangan Kamis. Saat itu net sell investor asing juga masih tercatat tinggi di angka Rp 4,44 triliun.
Kemudian pada perdagangan Jumat, IHSG kembali menguat 1,81% ke level 8.329,60. Sepanjang perdagangan ini, volume perdagangan IHSG tercatat sebanyak 57,82 miliar dengan nilai transaksi Rp 41,69 triliun. Indeks saham RI saat itu tercatat net sell sebesar Rp 1,53 triliun.
(acd/acd)










































