Penjelasan Danantara soal Istilah Saham Gorengan

Penjelasan Danantara soal Istilah Saham Gorengan

Ilyas Fadilah - detikFinance
Minggu, 01 Feb 2026 21:45 WIB
Penjelasan Danantara soal Istilah Saham Gorengan
Chief Investment Officer Danantara, Pandu Sjahrir - Foto: Ilyas Fadilah
Jakarta -

Chief Investment Officer Danantara Indonesia Pandu Sjahrir menjelaskan istilah saham gorengan yang mencuat belakangan. Ini terjadi seiring dengan ambruknya IHSG beberapa hari terakhir.

Pandu menjelaskan, istilah saham gorengan banyak muncul dari sudut pandang investor. Sementara Morgan Stanley Capital International (MSCI) menyebutnya dengan istilah uninvestability.

"Kalau MSCI menyebutnya uninvestability. Kenapa? Karena mungkin secara valuasi sangat tinggi. Valuasi itu apa? Misalnya secara EV to sales, EV to EBITDA atau price to earning ratio yang sangat tinggi. Apakah itu make sense? Sebenarnya kan itu," ujarnya di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Minggu (1/2/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dengan kata lain, saham tersebut umumnya memiliki valuasi yang sangat tinggi yang tidak sesuai dengan fundamentalnya. Penilaian valuasi itu tercermin dari rasio seperti EV to sales, EV to EBITDA, hingga price to earning ratio.

ADVERTISEMENT

Kondisi ini menjadi perhatian investor asing yang mempertanyakan dasar valuasi saham-saham tersebut. Meski begitu, Pandu menyebut jangan hanya menyalahkan pemainnya tapi lebih kepada sistemnya.

"Dan itu banyak memang masukan-masukan dari investor-investor asing yang merasa kok ini bisa valuasi price to earning bisa sampai ribuan lebih. Jadi sebenarnya lebih kalau disebut bahasa saham gorengan itu kesana. Tapi yang saya bilang juga, yang saya sebut dua hari terakhir, don't hate the player, hate the game," jelas Pandu.

Oleh karena itu yang perlu dibenahi di sini adalah sistem dan tata kelola pasar, baik di level Bursa maupun ekosistem pasar modal secara keseluruhan. Apalagi Danantara merupakan investor di pasar modal Tanah Air.

"Yang harus diperbaiki memang kita sebagai Bursa ataupun kita tuh harus bisa lebih baik lagi. Saya kan juga market participant. Di sini, di Danantara pun kita melakukan investment," imbuhnya.

Dalam setiap keputusan investasi, Danantara mengincar perusahaan dengan fundamental kuat, valuasi yang menarik, serta likuiditas saham yang baik. Pandu menegaskan likuiditas menjadi faktor penting dalam menentukan kelayakan investasi.

"Kita ingin melakukan investment ke perusahaan-perusahaan yang memiliki fundamental yang sangat baik, company yang sangat baik, dengan valuasi yang menarik, dan terakhir likuiditas yang bagus. Itu juga sangat penting," tutupnya.

(kil/kil)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads