Komisi XI DPR RI menggelar rapat kerja perdana dengan jajaran baru Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) periode 2026-2031. Dalam rapat perdana tersebut, Komisi XI menyoroti temuan saham-saham yang harganya naik signifikan.
Anggota Komisi XI DPR RI, Melchias Marcus Mekeng mengatakan, anomali saham ini menjadi masalah free float. Ia menjelaskan, perusahaan yang melakukan initial public offering (IPO) biasanya hanya menyediakan free float ke publik sebesar 2% dari total 15% yang sebagian besarnya dipegang oleh pengusaha.
Melalui praktik ini, emiten terkait disebut melakukan manipulasi harga atau menggoreng saham. Dalam praktik ini, emiten terkait biasanya bekerja sama dengan sekuritas yang berperan sebagai underwriter perusahaan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini sangat merusak pasar kita, karena mestinya harga yang listed itu yang tercatat itu kan mencerminkan, kesehatan dari perusahaan itu, kapasitas segala macam dari perusahaan itu ada di situ," ungkap Mekeng dalam rapat di Kompleks Parlemen, Jakarta Pusat, Rabu (1/4/2026).
Mekeng mengatakan, ada perusahaan tercatat yang terindikasi melakukan praktik goreng saham. Ia menyebut, ada salah satu emiten yang mengalami kenaikan harga saham signifikan sejak melakukan IPO.
"Ada perusahaan yang dia baru go public Rp 200, terus naik lagi jadi Rp 8.000 dalam waktu 2-3 bulan. Nah, ini saya mau tanya, pasti bapak-bapak dan ibu-ibu di OJK sudah tahu, perusahaannya siapa itu? Nah, ini perusahaan ini bagaimana? Ini nggak masuk akal, tiga bulan harga Rp 200 jadi Rp 8.000," ungkapnya.
Selain itu, Mekeng menyebut kapitalisasi pasar emiten tersebut naik dari Rp 50 miliar menjadi Rp 3 triliun. Kondisi ini disebut mengkhawatirkan karena dapat disalahgunakan untuk menarik pinjaman ke perbankan.
"Nah ini kan udah double jadinya. Di pasar modal dibobol, di perbankan dia bobol," tegasnya.
Ia mempertanyakan fungsi pengawasan OJK. Mekeng menyebut, aksi goreng saham masuk dalam tindak pidana karena memenuhi aspek kebohongan publik.
Ia juga meminta jajaran OJK saat ini bertindak tegas terhadap pelanggaran di pasar modal. Pasalnya, praktik tersebut mencoreng reputasi pasar modal Indonesia sebagaimana peringatan yang dilakukan Morgan Stanley Capital International (MSCI) beberapa waktu lalu.
"Saya berharap Ibu Kiki (Friderica Widyasari Dewi) berserta tim ini harus berani merubah. Ya, korbannya kan Pak Mahendra (mantan Ketua OJK) sama Pak Inarno (mantan Anggota Dewan Komisioner OJK), gara-gara hancur itu pasar langsung dicopot. Nah, jangan sampai Ibu Kiki kejadian gitu juga, Bu. Harus berani tegas," pungkasnya.
Simak juga Video '3 Faktor Utama Penyebab IHSG Bergejolak':
(ahi/ara)










































