Pasar saham Indonesia saat ini dalam tekanan turun dan menanti dua hal penting untuk reversal. Yang pertama tentu kapan perang AS Israel dengan Iran berakhir dan agenda Reformasi Pasar Modal untuk menjawab permintaan indeks provider global.
Pada akhir Januari 2026 lembaga penyedia indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) melakukan interim freeze (pembekuan sementara) rebalancing untuk seluruh indeks saham Indonesia. Artinya MSCI tidak mengimplementasikan penambahan saham baru, kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF), maupun migrasi naik antar segmen ukuran indeks.
Dampaknya terjadi penangguhan seluruh perubahan indeks untuk periode rebalancing Februari 2026 yang mencakup pembatalan penambahan saham baru ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI) dan penundaan perpindahan saham dari kategori Small Cap ke Standard Index.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
MSCI menyorot masalah transparansi data free float di pasar modal Indonesia mulai dari data kepemilikan saham Indonesia masih kurang transparan dan ada kekhawatiran konsentrasi kepemilikan tinggi dan potensi coordinated trading (trading terkoordinasi) yang mengganggu pembentukan harga wajar. Kondisi ini sempat membuat pelaku pasar panik karena ada ancaman bila kondisi transparansi pasar tidak menunjukkan perbaikan yang signifikan hingga Mei 2026, MSCI akan meninjau kembali status aksesibilitas pasar Indonesia.
Ada dua opsi yang mungkin diambil yakni menurunkan bobot Indonesia dalam indeks MSCI Emerging Markets, atau opsi kedua menurunkan klasifikasi Indonesia dari Emerging Markets menjadi Frontier Market. Kedua hal ini berpotensi mendorong capital outflow dari investor asing khususnya pengelola dana yang berbasis indeks.
Passive fund dalam 10 tahun terakhir bekembang sangat pesat sehingga perubahan bobot sampai penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia akan punya pengaruh signifikan. FTSE Russell sebagai penyedia indeks global juga memutuskan menunda peninjauan indeks Indonesia periode Maret 2026.
FTSE Russell menanti reformasi perhitungan saham beredar di publik atau free float yang tengah dilakukan Otoritas Pasar Modal Indonesia.
Pasca interim freeze oleh MSCI dan FTSE Russell, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Self-Regulatory Organizations (SRO) bergerak cepat dengan keluarnya 8 rencana aksi percepatan reformasi integritas pasar modal Indonesia, di mana beberapa di antaranya untuk menjawab permintaan MSCI dan FTSE.
Ada empat hal yang diajukan dalam proposal untuk memenuhi permintaan Global Indeks Providers dan per 2 April ini semua sudah berhasil dipenuhi. Ada yang menarik selain cepatnya langkah otoritas pasar modal Indonesia, 4 aksi ini membawa kenaikan kelas bursa Indonesia menjadi salah satu yang paling transparan di dunia.
Beberapa aksi tersebut adalah sebagai berikut. Pertama adalah penyediaan data kepemilikan saham perusahaan terbuka di atas 1% kepada publik yang dirilis secara bulanan untuk tiap emiten. Langkah ini dapat memberikan visibilitas struktur kepemilikan emiten dan sesuai dengan pengaturan bursa global yang mengarah pada disclosure/publikasi pemegang saham di bawah 5%.
Data menunjukkan beberapa negara di Eropa dan Jepang mengatur pengungkapan di atas 3%, India di atas 1%, dan Thailand bahkan sampai di atas 0,5%. Dengan posisi 1%, Indonesia menjadi salah satu yang paling terbuka sama dengan India.
Kedua terkait granularity klasifikasi investor. Meningkatkan granularity klasifikasi investor dari 9 kategori menjadi 39 kategori. Ini juga upaya meningkatkan transparansi karakteristik dan intention of ownership investor. Langkah ini penting karena dapat digunakan untuk penghitungan real free float, seperti yang dilakukan di beberapa negara. Di India kategori investor dibagi dalam 29 sedangkan Indonesia sampai 39.
Ketiga terkait Implementasi Pengumuman High Shareholding Concentration (HSC). HSC dapat dianggap sebagai sebagai Early Warning Mechanism untuk transparansi kepada investor terkait dengan konsentrasi kepemilikan saham Emiten. Saham dengan konsentrasi tinggi artinya dimiliki sekelompok kecil pihak, sehingga ada potensi likuiditas saham tersebut terbatas.
Konsentrasi tinggi membuat saham emiten lebih mudah dimanipulasi dan cenderung mengganggu pembentukan harga di pasar seperti yang MSCI sebutkan. Global Index Provider juga mempertimbangkan HSC sebagai salah satu alat asesmen konstituen indeks sejak tahun 2016.
Saham dengan HSC tinggi berpotensi dikeluarkan dari indeks yang dikeluarkan MSCI dan FTSE dan tidak bisa masuk dalam 12 bulan ke depan. Praktik HSC telah diterapkan di pasar modal Hong Kong.
Yang keempat adalah kenaikan batas minimum Free Float dari 7,5% menjadi 15%. Implementasi peningkatan batas minimum free float dilakukan secara bertahap dan diharapkan dapat mendorong likuiditas dan pendalaman pasar. Kenaikan Free float diikuti dengan penajaman definisi free float yang diintegrasikan dengan data granularity dapat mendorong terciptanya real free float.
Kebijakan free float Indonesia membawa kita sama dengan SET Thailand dan lebih tinggi dibandingkan SGX Singapura, PSE Filipina, dan bahkan LSE Inggris.
Selain itu otoritas juga menyediakan data pemilik manfaat pemegang saham emiten di atas 10%. Data ini memang tidak dipublikasikan tetapi tersedia bagi pihak yang berkepentingan dengan berdasarkan permintaan dan berdasarkan prosedur yang ditetapkan oleh Bursa. Tersedianya data ini juga salah bentuk transparan pasar saham Indonesia.
Peningkatan integritas pasar modal oleh OJK juga diikuti penegakan hukum. Sepanjang tahun 2026 sanksi administratif atas tindak pidana di bidang pasar modal terkait manipulasi pasar adalah sebesar Rp 29,30 miliar untuk 11 pihak. Ini dapat meningkatkan praktek pasar modal yang lebih baik di masa depan dan diharapkan dapat memberikan efek jera kepada pihak terkait ataupun lain untuk tidak melakukan praktek yang sama.
Langkah yang dilakukan OJK dan SRO ini membawa bursa Indonesia menjadi salah satu yang paling transparan karena High Shareholding Concentration (HSC) hanya dilakukan di bursa HKEx (Hong Kong) dan penyediaan data kepemilikan saham perusahaan terbuka di atas 1% serta granularity klasifikasi investor yang sangat detail hanya dilakukan di bursa India. Indonesia menerapkan kedua hal tersebut bersamaan dan menjadi salah satu bursa saham paling transparan.
Yang patut di apresiasi atas selesainya seluruh program peningkatan transparansi, integritas dan kredibilitas informasi kepemilikan saham adalah waktu yang cukup singkat hanya 2 bulan. Ini menunjukkan kerja nyata atas reformasi struktural di Pasar Modal yang dilakukan oleh OJK dan SRO.
Langkah di atas harusnya sudah sesuai dengan standar praktek bursa global dan bahkan jauh lebih baik dari sebagian besar bursa global. Tentu ini dapat membantu investor pasar saham Indonesia tenang karena peluang Indonesia diturunkan ke Frontier Market menjadi sangat kecil dan/atau tidak mungkin terjadi.
Penurunan bobot Indonesia mungkin terjadi karena ada 1 saham di Indeks FTSE dan 2 saham di indeks MSCI global, terdapat di list High Shareholding Concentration (HSC) yang dikeluarkan BEI pada 2 April 2026. Saham tersebut sangat mungkin dikeluarkan dari list Indeks global dan menyebabkan penurunan bobot, tetapi penurunan bobot kita bisa saja tidak terjadi bila ada saham yang masuk menggantikan.
Peluang pergantian saham sangat besar terjadi karena pada waktu sebelum interim freeze sudah ada beberapa saham yang berpotensi masuk ke Indeks global baik MSCI maupun FTSE.
India pernah menghadapi situasi yang mirip Indonesia di tahun 2010, di mana ada kekhawatiran atas dominasi pemegang saham pengendali, keterbatasan saham beredar, serta ketergantungan pasar pada arus modal jangka pendek.
Baca juga: Apa Rencana Danantara Usai Borong Saham? |
Otoritas India merespons dengan beberapa kebijakan dan salah satunya menaikkan free float. Reformasi yang dilakukan India sejak 2010, membuat India berhasil menarik arus modal asing sekitar US$1,25 triliun, membangun salah satu basis investor ritel terbesar di dunia, serta mengukuhkan posisinya sebagai pasar dengan alokasi inti dalam portofolio emerging market global.
India kini menjadi favorit investor emerging market berkat reli saham, rekor penawaran umum perdana (IPO), dan basis investor ritel yang besar. Langkah 8 rencana aksi percepatan reformasi integritas pasar modal Indonesia yang dilakukan OJK dan SRO juga dapat membawa posisi Indonesia selevel dengan India di masa depan.
Hans Kwee
Praktisi Pasar Modal
Dosen Magister Trisakti
Simak Video "Video Hasil Pertemuan OJK-BEI dengan MSCI"
[Gambas:Video 20detik]
(ang/ang)











































