OJK Ungkap Kondisi Pasar Modal-Bank Usai Digempur MSCI cs

OJK Ungkap Kondisi Pasar Modal-Bank Usai Digempur MSCI cs

Andi Hidayat - detikFinance
Selasa, 07 Apr 2026 19:30 WIB
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan RI (OJK) Friderica Widyasari Dewi
Foto: Andi Hidayat
Jakarta -

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan hebat usai mendapat peringatan soal transparansi oleh sejumlah penyedia indeks saham global seperti Morgan Stanley Capital International (MSCI). Dalam periode yang sama, sejumlah lembaga pemeringkat juga memangkas outlook bagi perbankan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan swasta.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengaku telah menyikapi berbagai peringatan dari lembaga global tersebut. Terhadap pasar modal misalnya, OJK bersama self-regulatory organization (SRO) telah mencanangkan delapan langkah reformasi. Langkah ini juga telah disampaikan kepada sejumlah penyedia indeks global, seperti MSCI dan FTSE Russell beberapa waktu lalu.

"Semua proposal kita sudah kita sampaikan dan kita deliver, kita sampaikan kepada publik dan ini memberikan harapan baru," ungkap Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, dalam acara Outlook Indonesia Peran Penggerak Ekonomi Nasional di Menara Bank Mega, Jakarta, Selasa (7/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kendati IHSG saat ini bergerak di bawah level 7.000, perempuan yang akrab disapa Kiki itu menyebut pergerakannya dengan indeks utama pasar modal domestik seperti LQ45 hingga IDX30. Hal ini mencerminkan pertumbuhan indeks pasar modal yang lebih sehat.

ADVERTISEMENT

Sejalan dengan peningkatan kualitas pasar modal, OJK juga telah menjatuhi sejumlah sanksi kepada pihak yang terbukti melakukan pelanggaran seperti manipulasi pasar atau goreng saham hingga melakukan initial public offering (IPO) yang tidak sesuai ketentuan. Ia mengaku tidak akan pandang bulu menjatuhkan sanksi terhadap pihak yang melanggar ketentuan pasar modal.

"Sekarang kita melihat sudah paralel dan berbagai perbaikan yang kita lakukan, tentu kita antisipasi, mungkin ada penyesuaian di indeks kita. Nggak apa-apa, karena kita akan melihat bagaimana perbaikan-perbaikan itu justru memberikan optimisme ke depan," jelasnya.

Sementara di industri keuangan, Kiki menyebut perbankan Indonesia masih mencatatkan sejumlah pertumbuhan. Per Februari 2026, kredit perbankan tumbuh 9,37% secara bulanan. Ia merinci, pertumbuhan kredit korporasi naik mencapai 14,74% secara tahunan.

Pertumbuhan solid industri perbankan juga tercermin pada tingkat risiko kredit macet (NPL) gross yang berada di level 2,17% dengan posisi net di 0,83% per Februari 2026. Sementara untuk AL/Dana Pihak Ketiga (DPK) 27,40%.

"Kalau kita melihat dari berbagai krisis yang ada, stabilitas sektor keuangan akan sangat ditentukan oleh fundamental daya ekonomi maupun sektor jasa keuangan," jelasnya.

Sebagai informasi, Fitch Rating diketahui menurunkan outlook untuk tiga bank BUMN menjadi negatif pada 9 Maret 2026. Kemudian outlook dari Moody's Ratings, terdapat lima bank BUMN dan swasta yang turun kelas ke negatif dari sebelumnya stabil.

Sementara untuk sektor non-perbankan di segmen industri multifinance, Kiki menyebut tercatat pertumbuhan pembiayaan ke sektor kendaraan listrik dan hybrid. Pertumbuhan tersebut tercatat positif dengan NPF yang stabil di posisi 2,79%.

Kiki menambahkan, OJK memandang optimistis target pertumbuhan kredit jasa keuangan RI sebesar 12% di tengah tekanan ketidakpastian global. Optimisme ini didukung oleh sejumlah strategi penguatan pembiayaan di sektor UMKM dan sejumlah program prioritas pemerintah, yakni Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, hingga pembangunan 3 juta rumah.

"Intinya kalau kita tarik semuanya, kita cukup yakin di 2026 ini kita bisa mencapai target tersebut," pungkasnya.

Outlook Indonesia dipersembahkan oleh Komisi XI DPR RI bersama detikcom didukung oleh Danantara Indonesia, Lembaga Penjamin Simpanan, Otoritas Jasa Keuangan, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk.

(acd/acd)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads