Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah sempat menembus level tertinggi sepanjang sejarah, Rp 17.300. Intervensi untuk meredam gejolak nilai tukar mata uang Paman Sam tidak bisa dilakukan oleh Bank Indonesia (BI) saja.
Ekonom Senior & Praktisi Perbankan, Ryan Kiryanto mengatakan, dibutuhkan campur tangan otoritas lain yang ikut meredam gejolak nilai tukar dolar AS terhadap rupiah.
"Stabilisasi nilai tukar rupiah, BI tidak bisa bekerja sendiri, BI sudah mengerjakan tugasnya, tinggal otoritas lain yang mengerjakannya," kata Ryan dalam FGD Bank Indonesia di Bandung, Jumat (24/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ryan melanjutkan, perlu peran pemerintah dan otoritas terkait untuk meredam gejolak nilai tukar dolar AS yang sudah menembus level di atas Rp 17.000. Dengan kerja sama yang apik lintas instansi, maka pelaku pasar bisa yakin dengan fundamental rupiah dan perlahan meredam gejolak nilai tukar dolar AS.
"Nggak bisa kerja sendiri, harus ada ruang untuk pemerintah atau otoritas lain juga untuk berperan serta tentu dengan segala tupoksi masing-masing. Maka orkestrasi ini mudah-mudahan bisa meng-confidence market sehingga market percaya dengan rupiah lalu pelan-pelan rupiah banyak dibeli orang," ujar Ryan.
Sederhananya, Ryan mengatakan, mata uang Paman Sam menguat karena banyak yang membelinya. Oleh karena itu, dibutuhkan upaya ekstra untuk meyakinkan pasar terhadap kebijakan pemerintah.
"Dolar AS menguat karena banyak yang beli dolar, atau bahasa lainnya orang nggak percaya sama rupiah makanya beli dolar. Oleh karena itu, kita harus betul-betul extra effort bagaimana meng-convince, meyakinkan pasar kalau policy pemerintah on the track, eksekusinya on the track. Itu cara kita meyakinkan pasar," kata Ryan.
(ara/hns)










































