PT Astra International Tbk (ASII) membukukan penurunan laba bersih sepanjang kuartal I-2026. Penurunan ini terjadi seiring terkoreksinya pendapatan Grup Astra sepanjang periode tersebut.
Berdasarkan laporan keuangan, Astra membukukan laba Rp 5,8 triliun sepanjang kuartal I-2026. Angka tersebut turun 16% dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya, yakni sebesar Rp 6,9 triliun.
Kemudian Astra juga membukukan penurunan pendapatan bersih menjadi sebesar Rp 78,6 triliun sepanjang kuartal I 2026. Angka tersebut turun sekitar 6% dibanding periode yang pada tahun sebelumnya sebesar Rp 83,3 triliun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penurunan kinerja terjadi karena rendahnya kinerja pada segmen alat berat, pertambangan, konstruksi, dan energi. Utamanya terjadi akibat kontribusi dari lini bisnis pertambangan emas yang menurun, rendahnya volume bisnis alat berat, dan bisnis jasa penambangan.
Di sisi lain, Astra juga mencatat beberapa non-recurring charges dan penyesuaian nilai wajar atas investasi-investasi ekuitas. Tanpa memperhitungkan hal ini, laba bersih Astra turun 8% menjadi Rp 6,8 triliun.
"Pada kuartal pertama tahun 2026, laba Grup menurun terutama disebabkan oleh kontribusi yang lebih rendah dari divisi Alat Berat, Pertambangan, Konstruksi dan Energi. Namun, bisnis-bisnis lainnya mencatatkan kinerja yang lebih baik, sehingga dapat mengimbangi sebagian dari penurunan tersebut," ujar Presiden Direktur Astra International, Rudy, dalam keterangan tertulis, Kamis (30/4/2026).
Otomotif Kontribusi Terbesar
Segmen otomotif & mobilitas menjadi sektor yang paling besar kontribusinya terhadap laba bersih . Segmen ini berkontribusi sebesar Rp 2,4 triliun, naik 4% dari Rp 2,3 triliun di tahun sebelumnya.
Kemudian dari sisi neraca, total aset perseroan tercatat sebesar Rp 517,8 triliun hingga kuartal I 2026. Sementara ekuitas perseroan tercatat sebesar Rp 239,1 triliun dengan liabilitas sebesar Rp 224,6 triliun.
Rudy menjelaskan, Astra akan tetap melanjutkan pembelian kembali saham atau buyback di kuartal I 2026 dengan total yang telah direalisasikan sebesar Rp 2,7 triliun. Selain itu, buyback juga dilakukan PT United Tractors Tbk (UNTR) di kuartal I 2026 dengan total Rp 3 triliun.
"Ke depan, kondisi pasar diperkirakan masih akan menantang di tengah ketegangan geopolitik. Kami akan terus mengelola tantangan jangka pendek secara cermat dan disiplin, dengan tetap fokus dalam menciptakan nilai bagi para pemangku kepentingan," pungkasnya.











































