OJK Ungkap Penyebab IHSG Anjlok 19% Sepanjang 2026

OJK Ungkap Penyebab IHSG Anjlok 19% Sepanjang 2026

Andi Hidayat - detikFinance
Selasa, 05 Mei 2026 15:38 WIB
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi memberikan keterangan pers di Bursa Efek Indonesia, Senin (27/4/2026).
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi/Foto: Andi Hidayat
Jakarta -

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 19,55% sepanjang periode Januari-April 2026. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi mengatakan, pergerakan IHSG terjadi imbas tingginya ketidakpastian dan volatilitas pasar keuangan global.

Ia menjelaskan, pada April 2026 IHSG ditutup di level 6.956,80 atau melemah 1,3% secara bulanan (month to month/mtm) dan 19,55% secara year to date (ytd) per akhir April 2026. Menurutnya, pergerakan pasar saham domestik masih cenderung dinamis di tengah tekanan eksternal.

"Pasar saham domestik pada April 2026 masih terlihat bergerak dinamis, sejalan dengan tingginya ketidakpastian global dan berlanjutnya volatilitas pasar keuangan secara global," ungkapnya dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Komisioner OJK secara virtual, Selasa (5/5//2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kendati demikian, Hasan menyebut likuiditas dan ketahanan pasar modal domestik masih terjaga dengan angka rata-rata spread bid-ask yang rendah, yakni sebesar 1,33 kali pada April 2026.

ADVERTISEMENT

Di sisi lain, kinerja pasar obligasi domestik justru menunjukkan penguatan. Indonesia Composite Bond Index (ICBI) tercatat naik 0,74% secara bulanan ke level 436,38 pada akhir April 2026.

Kenaikan ini didukung oleh penurunan rata-rata yield Surat Berharga Negara (SBN) sebesar 3,9 basis poin secara mtm. Kemudian investor non-residen juga mencatatkan aksi beli bersih (net buy) di pasar SBN sebesar Rp 8,8 triliun secara month to date hingga 29 April 2026, yang mencerminkan kepercayaan terhadap instrumen obligasi domestik.

Dari industri pengelolaan investasi, kinerja juga terpantau positif. Nilai aktiva bersih (NAB) reksa dana mencapai Rp 711,89 triliun pada April 2026, tumbuh 2,32% secara month to date dan 5,41% secara year to date.

Pertumbuhan ini ditopang oleh aliran dana masuk investor dengan net subscription reksa dana mencapai Rp 8,11 triliun secara bulanan dan total Rp 37,24 triliun sepanjang tahun berjalan.

"Kinerja industri reksa dana yang tetap terjaga ini ditopang oleh kecenderungan investor reksa dana untuk tetap melakukan subscription dengan angka net subscription sebesar Rp 8,11 triliun secara month to date dan total sebesar Rp 37,24 triliun rupiah secara year to date," pungkasnya.

Tonton juga video "Merah! Kebijakan Pemerintah Jadi Ganjalan Kondisi IHSG"

(ahi/ara)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads