Otoritas Jasa Keuangan (OJK) buka-bukaan soal dampak pengumuman rebalancing saham Indonesia dalam indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI). Pengumuman tersebut dijadwalkan pada 12 Mei.
Meski begitu, dampak pengumuman MSCI terhadap pasar modal Indonesia dinilai hanya jangka pendek. Pasalnya, otoritas pasar modal tengah melakukan sejumlah reformasi dari sisi transparansi.
"Semoga (dampak pengumuman) ini bisa kita antisipasi dengan baik lah, karena kan saya udah beberapa kali bilang, bahwa dengan perbaikan reformasi integritas yang kita lakukan, pasti ada dampaknya, dan kalaupun ada penyesuaian jangka pendek, kita melihat ini sebagai shorten pain lah, tapi insyaallah long term gain," ungkap Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta Selatan, Senin (11/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Wanita yang akrab disapa Kiki ini mengatakan, tidak terdapat penambahan saham baru asal Indonesia dalam peninjauan indeks MSCI kali ini. Meski demikian, ia menyebut ada kemungkinan beberapa saham Indonesia justru dikeluarkan dari indeks tersebut.
"Besok pengumumannya kita tunggu, kan mereka sudah bilang meng-freeze kan. Jadi, nggak ada yang baru yang masuk, tapi yang lama mungkin akan keluar," jelasnya.
Pasar Modal RI Telan Pil Pahit
Dalam kesempatan terpisah, otoritas BEI mengakui akan ada penurunan bobot saham Indonesia dalam indeks MSCI jika terdapat emiten yang dikeluarkan. Penurunan bobot ini berarti turunnya porsi investasi asing di saham RI dalam indeks MSCI.
Penjabat sementara (Pjs) Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, mengatakan pengeluaran saham Indonesia dari indeks MSCI berlaku pada saham-saham yang masuk kategori High Shareholding Concentration (HSC) atau kepemilikan terkonsentrasi tinggi.
"Jadi, kalau itu dilakukan oleh MSCI dan tidak ada saham baru yang masuk dalam MSCI, kita dalam jangka pendek akan melihat mungkin saja weighting Indonesia turun," ungkapnya dalam acara Investor Relations Forum di Main Hall BEI, Jakarta Selatan, Senin (11/5/2026).
BEI telah mengeluarkan saham-saham HSC dari papan perdagangan utama di LQ45, IDX80, dan IDX30. Langkah itu dilakukan sebagai bagian dari upaya memperbaiki kualitas dan transparansi pasar modal Indonesia.
Saat ini, terdapat 10 saham dalam kategori HSC. Kategori saham tersebut awal diumumkan BEI pada awal April kemarin.
Jeffrey menambahkan, penyesuaian bobot imbas kebijakan HSC sebagai pil pahit yang harus ditelan pasar modal Indonesia. Akan tetapi ia meyakini pertumbuhan pasar modal Indonesia akan lebih sehat dengan penambahan bobot saham dalam indeks MSCI.
"Kami mengibaratkan apa yang kita lakukan saat ini adalah pil pahit jangka pendek yang kita telan untuk kesehatan jangka panjang kita. Untuk long term kami optimis weighting Indonesia akan naik di MSCI," pungkasnya.











































