OJK: IHSG Jauh dari Posisi ATH, Harga Saham di Bawah Rata-rata Asia

OJK: IHSG Jauh dari Posisi ATH, Harga Saham di Bawah Rata-rata Asia

Andi Hidayat - detikFinance
Rabu, 13 Mei 2026 12:41 WIB
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi/Foto: Andi Hidayat/detikcom
Jakarta -

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengakui valuasi rata-rata saham di Indonesia saat ini lebih murah dibandingkan dengan bursa saham di kawasan regional. Kondisi tersebut terjadi seiring pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dari posisi tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) yang sempat dicapai pada awal 2026.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, menjelaskan kondisi ini terjadi imbas dinamika global. Saat ini, Price to Earning Ratio (PER) saham Indonesia berada di level 16 kali.

"IHSG kita sekarang sudah jauh di bawah posisi pada saat terjadi all time high di pertengahan Januari. Sekarang bahkan secara PER regional, tingkat rata-rata PER saham-saham kita sudah ada di bawah PER rata-rata bursa-bursa lainnya. Sekarang tingkatnya di level 16 kali," ungkap Hasan di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta Selatan, Rabu (13/5/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hasan menilai kondisi tersebut dapat menjadi peluang bagi investor untuk masuk ke pasar modal. Namun, ia mengimbau investor agar tetap selektif dalam memilih saham yang memiliki prospek jangka panjang.

ADVERTISEMENT

"Kami berharap para investor kita secara selektif memanfaatkan momentum ini untuk masuk di pasar dan memilih saham-saham terbaik yang secara prospektif dapat terus melakukan perbaikan kinerja dari waktu-waktu," jelasnya.

Sebagai informasi, IHSG sempat mencapai level tertinggi sepanjang masa atau all time high (ATH) pada pertengahan Januari di posisi 9.134,7. Kemudian saat ini, indeks saham berada di level 6.734,53.

OJK dan self regulatory organization (SRO) tengah melakukan reformasi pasar modal. Namun, OJK menilai tekanan yang terjadi hari ini hanya jangka pendek menyusul pengumuman MSCI hari ini.

Menurut Hasan, pelemahan pasar dalam jangka pendek merupakan bagian dari proses penyesuaian menuju level dasar baru bagi pasar saham Indonesia. Ia menyebut, baseline baru tersebut diharapkan dapat menjadi fondasi untuk meningkatkan kualitas emiten yang tercatat di BEI.

"Kami juga mendorong saham untuk masuk ke anggota indeks global pada saatnya penuhi kriteria yang diharapkan masuk ke index provider global. Jadi, long term gain yang kami kejar dalam upaya rebalancing index provider global," pungkasnya.

(ahi/ara)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads