PT Indofarma (Persero) Tbk (INAF) masih membukukan rugi bersih sepanjang periode tahun 2025. Perseroan mengaku industri masih menghadapi tantangan, seperti keterbatasan likuiditas dan dinamika ekonomi global.
Sepanjang tahun buku 2025, INAF membukukan penjualan bersih sebesar Rp 151,5 miliar. Adapun rugi bersih perseroan tercatat sebesar Rp 77,9 miliar sepanjang tahun buku 2025.
Meski begitu, rugi periode berjalan turun signifikan sebesar 76,7% dari Rp 334,5 miliar pada tahun 2024. Capaian ini ditopang turunnya beban umum dan administrasi sebesar 55,2%, efisiensi operasional, dan mengoptimalkan pendapatan lain.
Dari sisi struktur keuangan, tercatat perbaikan defisiensi modal dari Rp 1,144 triliun menjadi Rp 707 miliar. Hal ini didorong oleh penurunan liabilitas jangka pendek sebesar 58%.
"Berbagai langkah efisiensi dan optimalisasi yang kami lakukan telah menghasilkan perbaikan kinerja yang signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Ke depan, perseroan akan terus memperkuat daya saing melalui pengembangan portofolio produk, optimalisasi fasilitas produksi, serta penciptaan pertumbuhan yang lebih sehat dan berkelanjutan," ungkap Direktur Utama INAF, Sahat Sihombing, dalam keterangan tertulisnya, Jumat (26/6/2026).
INAF juga berhasil mempertahankan daya saing pada bisnis jangka panjang yang tercermin dari pertumbuhan penjualan ekspor sebesar 11,9%, efisiensi biaya hingga 55,7%, dan perolehan 29 sertifikasi dari berbagai lembaga yang mencakup standar mutu, keamanan, dan kepatuhan nasional dan internasional.
Perseroan juga memiliki Nomor Izin Edar (NIE) obat untuk berbagai kelas terapi, sebagai modal untuk mendukung pengembangan portofolio dan berkontribusi terhadap ketahanan Kesehatan Nasional. Sepanjang tahun 2025, perseroan menganggapnya sebagai momentum fondasi bisnis berkelanjutan.
(acd/acd)