×
Ad

BI Ungkap Biang Kerok Dolar AS Kembali Tembus Rp 18.000

Retno Ayuningrum - detikFinance
Selasa, 07 Jul 2026 15:51 WIB
Foto: Andhika Prasetia/detikFoto
Jakarta -

Bank Indonesia (BI) angkat bicara soal nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sempat menyentuh level Rp 18.000/dolar AS. Pada perdagangan pagi ini, Selasa (7/7/2026) nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berada di level Rp 17.992 atau turun sebesar 3 poin (0,02%).

Namun, menjelang penutupan perdagangan Senin (6/7/2026) kemarin, rupiah sempat menyentuh level Rp 18.000/dolar AS. Secara intraday, mata uang Paman Sam ini sempat menguat hingga menyentuh level Rp 18.009 sekitar pukul 14.12 WIB.

Gejolak mata uang Garuda ini tak lepas dari kebijakan Bank Sentral AS, The Fed. Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Ramdan Denny Prakoso mengatakan Federal Open Market Committee (FOMC) memutuskan untuk tetap mempertahankan suku bunga federal funds di 3,5% hingga 3,75% pada 17 Juni lalu. Namun, pelaku pasar melihat adanya pejabat The Fed mengirimkan sinyal kuat bahwa suku bunga acuan masih terus naik ke depan.

"Jadi, sinyal hawkish itu mengindikasikan bagaimana suku bunga Fed Fund Rate di masa-masa yang akan datang, terutama tahun ini, yang memang probability-nya adalah tidak lagi turun tetapi akan naik," ujar Ramdan saat ditemui di Gedung DPR RI, Jakarta Pusat, Selasa (7/7/2026).

Ramdan menjelaskan perkembangan ini yang membuat indeks dolar AS (DXY) terus bergejolak bahkan menembus level tertinggi dalam satu tahun. Pada Januari 2026, indeks dolar AS berada di level 95.

Namun, pada akhir Juni, DXY telah naik hingga 101. Menurutnya, hal ini yang membuat mata uang di sejumlah negara terus melemah, termasuk Indonesia.

"Jadi, kombinasi adalah signal hawkish pejabat The Fed dan juga diikuti dengan naiknya DXY pada level tertinggi dalam satu tahun terakhir inilah yang membuat nilai tukar sejumlah negara itu melemah terhadap US dollar," jelas Ramdan.

Melihat hal itu, BI tentu tidak akan tinggal diam. Ramdan menegaskan BI akan tetap mengerahkan seluruh upaya agar menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dengan tetap berada di pasar selama 24 jam, baik di pasar luar negeri maupun dalam pasar dalam negeri.

"Dengan transaksi di pasar spot, di pasar NDF (Non-Deliverable Forward), di pasar DNDF (Domestic Non-Deliverable Forward) dan juga melakukan komunikasi yang intens dengan pelaku pasar. Oleh sebab itu kita bisa melihat bagaimana Rupiah perkembangannya relatively termasuk baik dibandingkan negara emerging market yang lain," beber Ramdan.

Dengan sejumlah upaya tersebut, Ramdan berharap nilai tukar rupiah ke depan perlahan menguat.

"Dan tentunya kita berharap ke depan Rupiah bisa stabil, akan mulai perlahan menguat terhadap USD. Oleh sebab itu tentunya sinergi dari berbagai bagian pihak itu sangat diperlukan untuk sama-sama membawa Rupiah kita menguat terhadap USD," jelasnya.

Simak juga Video 'Suku Bunga Naik Jadi 5,5%, BI Akui Rupiah Melemah Melebihi Proyeksi':




(acd/acd)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork