PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) resmi mencatatkan saham perdana atau initial public offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (9/7). PRDL menjadi emiten perusahaan tercatat keenam di BEI sepanjang tahun ini.
Berdasarkan papan perdagangan BEI, PRDL tercatat naik hingga menyentuh Auto Reject Atas (ARA) sebesar 35% ke harga Rp 162 per saham. Adapun harga awal yang ditawarkan PRDL sebesar Rp 120 per saham.
Pada kiprah pertamanya, BACH melepas sebanyak 522,9 juta saham baru atau setara 30% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO. Melalui aksi korporasi tersebut, perseroan berpotensi meraup dan segar sebanyak Rp 62,75 miliar.
Direktur Utama PRDL, Cristina Sandjaja, mengatakan prospek industri alat kesehatan masih sangat menjanjikan. Pemerintah sendiri mengalokasikan anggaran kesehatan sebesar Rp 244 triliun dan menargetkan program skrining kesehatan nasional yang menjangkau 140 juta penduduk.
Didukung lebih dari 10.000 puskesmas di seluruh Indonesia dan meningkatnya fokus pemerintah terhadap deteksi dini penyakit, industri diagnostik in vitro diperkirakan masih memiliki ruang pertumbuhan yang besar dalam beberapa tahun ke depan.
"Kami melihat peluang pertumbuhan yang masih sangat besar, terutama pada fasilitas kesehatan primer yang belum seluruhnya terjangkau. Dengan kualitas produk kami yang unggul, kapasitas produksi yang besar, jaringan distribusi yang luas serta nilai TKDN produk kami yang tinggi, kami optimistis dapat memperluas penetrasi pasar sekaligus menjadi mitra strategis pemerintah dalam penguatan pelayanan kesehatan nasional," ungkap Cristina dalam keterangan tertulisnya, Kamis (9/8/2026).
Rencananya, seluruh dana dari hasil IPO alokasikan untuk pelunasan produk hingga belanja modal perseroan. Pertama, PRDL akan mengalokasikan Rp 35,66 miliar untuk pelunasan pokok fasilitas kredit kepada PT Bank Central Asia Tbk (BCA) dan pelunasan pokok fasilitas kredit kepada PT Bank Pan Indonesia Tbk.
Selanjutnya sekitar 28,92% digunakan untuk belanja modal, termasuk namun tidak terbatas pada pembelian mesin dan peralatan kalibrasi, kendaraan, system software, relayout area produksi, dan penambahan AHU Lab Biomolekuler.
Terakhir sekitar 8,51% akan digunakan untuk modal kerja PRDL, termasuk namun tidak terbatas pada pembelian bahan baku, biaya product dan development, serta selling dan marketing.
Tonton juga video "Pasar Saham AS Naik Seusai Pengumuman Program Baru Trump"
(ahi/ara)