Direktur Jenderal Stabilitas dan Pengembangan Sektor Keuangan (SPSK) Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Herman Saheruddin, mengatakan investor Surat Berharga Negara (SBN) mayoritas berasal dari segmen ritel dalam negeri. Hal tersebut berbanding terbalik dengan kondisi 10-20 tahun lalu, di mana SBN pemerintah lebih banyak digenggam oleh investor asing.
"Dulu mungkin 20 tahun yang lalu gitu ya, atau 10 tahun yang lalu SBN itu banyak dimiliki oleh asing. Sekarang yang banyak punya adalah kita-kita investor dalam negeri, bahkan banyak investor ritel seperti adik-adik yang sudah punya SBN," ungkap Herman dalam acara Lampung Financial Festival, Minggu (6/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan begitu, bunga obligasi yang dibayarkan pemerintah kembali lagi ke mayoritas pemegang saham domestik. Adapun dana yang dihimpun dari penerbitan SBN dialokasikan untuk membiayai program pembangunan pemerintah.
Herman mengatakan, SBN merupakan instrumen investasi tahan terhadap volatilitas global mengingat diterbitkan dan dikelola langsung oleh negara. Indonesia sendiri memiliki tingkat kelayakan investasi pada level BBB dengan outlook stabil dari lembaga pemeringkat internasional, S&P Global.
"Jadi SBN itu adalah instrumen investasi yang aman, karena diterbitkan oleh negara, negara kita termasuk investment grade. Investment grade itu artinya negara lain di dunia itu memandang negara kita aman, bisa bayar utang. Kemarin credit rating Standard and Poor's mempertahankan rating kita di BBB dan outlooknya stable," jelasnya.
Herman menambahkan, instrumen ini tidak hanya dijual di pasar domestik, tetapi juga luar negeri. Ia menilai SBN menjadi investasi yang aman seperti emas dengan imbal hasil sebesar 7%. Investasi di instrumen SBN juga bisa dilakukan melalui layanan mobile banking.
"Jadi artinya SBN itu adalah instrumen yang aman, karena diterbitkan oleh negara," pungkasnya.
(acd/acd)









































