FTSE Russell disebut akan menaikkan bursa saham Vietnam menjadi Secondary Emerging Market pada klasifikasi ulang Senin mendatang. Jelang pengumuman tersebut, minat investor asing terhadap saham-saham Vietnam meningkat signifikan.
Dikutip dari Reuters, kenaikan kelas bursa Vietnam disebut akan meningkatkan eksposur terhadap saham-saham negara tersebut. FTSE sendiri memperkirakan aliran modal masuk ke saham Vietnam mencapai US$ 6 miliar atau sekitar Rp 106,87 triliun (asumsi kurs Rp 17.812).
Adapun transisi ini akan berlangsung dalam empat tahap hingga tahun 2027. Adapun saat ini, bursa saham Vietnam di FTSE berada pada status frontier market.
"Tonggak sejarah ini mencerminkan kemajuan luar biasa yang telah dicapai Vietnam dalam memperkuat pasar modalnya," kata kepala eksekutif FTSE, Fiona Bassett, dikutip dari Reuters, Minggu (20/9/2026).
Manajemen investasi Asia-Pasifik Vanguard, Duncan Burns, juga mengaku akan meningkatkan eksposur pihaknya di pasar saham Vietnam. Bahkan, manajer aset tersebut berencana meningkatkan investasi menjadi US$ 2,5 miliar atau sekitar Rp 44,53 triliun selama beberapa tahun ke depan.
Angka investasi ini disebut masih bisa meningkat secara signifikan melampaui angka US$ 2,5 miliar setelah dana kelolaan aktif dialokasikan modal ke pasar. Kondisi ini juga membantu menghidupkan kembali minat asing terhadap saham Vietnam.
Investor luar negeri diketahui membeli saham senilai 2,7 triliun dong di Bursa Efek Ho Chi Minh utama pada pekan 14 hingga 18 September. Namun mereka tetap menjadi penjual bersih sekitar 91 triliun dong sepanjang tahun ini.
Adapun pada bulan Agustus, FTSE mengidentifikasi 27 saham Vietnam yang memenuhi syarat untuk masuk dalam klasifikasi Indeks FTSE Global All Cap, termasuk nama-nama besar seperti konglomerat Vingroup, perusahaan teknologi FPT dan perusahaan pembuat baja Hoa Phat Group.
SSI Research memperkirakan arus dana ETF pada tahap pertama akan banyak masuk ke saham bank swasta VPBank, pengembang Vinhomes, FPT, dan Hoa Phat. Namun, Vingroup diperkirakan justru mengalami arus dana keluar bersih sekitar US$28 juta.
Pasalnya, penjualan dari ETF yang sudah ada diperkirakan lebih besar dibandingkan pembelian saham Vingroup akibat kenaikan peringkatnya, menurut SSI Research.
"Kenaikan peringkat FTSE merupakan pertanda dalam perjalanan menuju kesadaran dan keterlibatan yang lebih besar dari investor asing," kata Ketua Dynam Capital, Craig Martin.
"Pasar tetap relatif murah dan pertumbuhan pendapatan masih kuat," tambahnya.
Terlepas dari optimisme tersebut, kinerja pasar saham Vietnam masih relatif tertinggal. VN-Index baru naik sekitar 1,4% sepanjang tahun ini, dibandingkan dengan kenaikan sekitar 24% di Thailand dan 21% di Singapura, berdasarkan data LSEG.
Padahal, tahun lalu Vietnam menjadi pasar saham dengan kinerja terbaik di Asia Tenggara seiring investor bersiap menghadapi reklasifikasi FTSE yang diharapkan. Meski begitu, sejumlah tantangan masih membayangi, terutama terkait batasan kepemilikan asing dan keterbatasan free float pada sejumlah perusahaan.
Pencapaian ini juga kembali memunculkan harapan Vietnam mendapat peningkatan peringkat dari MSCI di masa mendatang. Investor menilai penerapan mekanisme kliring melalui central counterparty (CCP), yang diperkirakan paling cepat mulai 2027, dapat membantu Vietnam memenuhi persyaratan akses pasar MSCI.
(acd/acd)