Kenaikan ini sering bertambahnya pasokan dari beberapa blok seperti Semberah, Korinci dan Kangean.
"Tahun depan diperkirakan produksi rata-rata harian bisa mencapai 31-34 ribu barel setara minyak per hari (BOPD)," kata Head of Investor Relation EMP, Herwin Hidayat dalam paparan publik di Hotel Dharmawangsa, Jakarta, Jumat (14/12/2007).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Produksi tersebut terbilang stagnan dibanding produksi tahun 2006 karena beberapa kendala yang dihadapi perseroan.
Sampai semester I-2007, perseroan masih terkena dampak kerusakan pipa East Java Gas Pipeline yang berakibat pada penurunan pasokan gas dari Kangean dan kerusakan dari kapal tanker. Kondisi ini menyebabkan penghentian sementara produksi blok Kangean.
Selain itu turunnya produksi juga akibat sudah tidak terkonsolidasinya Lapindo Brantas Inc sejak Juli 2007.
Meski demikian, Herwin mengatakan kinerja perseroan diharapkan akan meningkat. Karena beberapa kendala telah dapat diatasi seperti kapal tanker yang sudah diganti dengan yang baru.
Untuk tahun depan, perseroan memprediksi kenaikan harga jual gas mencapai US$ 5 MMBTU.
"Harga gas saat ini harusnya bisa naik 5-6 kali lipat, saat ini harga gas di Indonesia Rp 2.500 per liter tapi efisiennya 30-40% lebih tinggi dari minyak. Pemerintah saja yang tidak pintar karena kita jual ke luar negeri lebih rendah dan kita impor yang lebih mahal. Tahun depan bisa ada kenaikan sampai setidaknya US$ 5," papar Herwin.
Mengenai belum dikeluarkannya laporan keuangan triwulan III-2007 yang diduga karena masih belum tuntasnya divestasi Lapindo Brantas, manajemn masih enggan berkomentar.
"Kami sudah siapkan (laporan keuangan) saat ini kami hanya mengikuti PSAK yang berlaku," tandas Herwin. Β (ir/qom)











































