Rupiah Terjepit, Yield AS 5,11% hingga Minyak Tembus US $100

Rupiah Terjepit, Yield AS 5,11% hingga Minyak Tembus US $100

Fadhly Fauzi Rachman - detikFinance
Kamis, 24 Sep 2026 11:55 WIB
Petugas menata mata uang dolar AS dan rupiah di penukaran mata uang asing di Jakarta, Senin (20/7/2026).
Ilustrasi Rupiah Tertekan / Foto: Andhika Prasetia/detikFoto
Jakarta -

Nilai tukar rupiah sedang mendapat tekanan. Bank Indonesia (BI) menyebut ada persoalan dari luar negeri hingga kebutuhan dolar di dalam negeri yang ikut menekan rupiah.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi ekspektasi pengetatan kebijakan moneter Amerika Serikat (AS), di tengah kekhawatiran inflasi global dan outlook fiskal.

"Kondisi tersebut mendorong yield US Treasury 10 tahun naik hingga 5,11%, tertinggi sejak 2007," kata Erwin dalam keterangannya, Kamis (24/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kenaikan yield surat utang AS membuat aset dolar kembali mendapat tekanan penguatan. Di saat yang sama, kondisi geopolitik turut menjadi perhatian pasar.

"Tekanan juga berasal dari ketidakpastian konflik Timur Tengah yang meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan minyak dunia, sehingga harga minyak Brent kembali di atas US$ 100 per barel," jelasnya.

ADVERTISEMENT

Tekanan tidak hanya datang dari global. Dari dalam negeri, kebutuhan valuta asing (valas) juga meningkat menjelang berakhirnya kuartal III 2026.

"Dari domestik, tekanan nilai tukar dipengaruhi kebutuhan valas importir menjelang akhir triwulan III dan arus keluar portofolio dari aset emerging markets," ungkap Erwin.

Menghadapi kondisi tersebut, Erwin mengatakan, BI terus berada di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. "Bank Indonesia terus hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar sesuai fundamental dan memastikan mekanisme pasar berjalan baik," ujarnya.

BI juga memperkuat strategi operasi moneter pro-market untuk mengelola struktur suku bunga pasar uang. Stabilisasi rupiah dilakukan melalui sejumlah instrumen, baik di pasar offshore maupun domestik.

"Intervensi dilakukan secara konsisten melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, spot dan DNDF di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder," kata Erwin.

BI juga meningkatkan insentif Swap dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) lindung nilai kepada perbankan dalam rangka pendanaan luar negeri. Selain itu, transaksi underlying diperluas sehingga mencakup arus masuk modal portofolio, pinjaman luar negeri oleh bank, serta foreign direct investment (FDI).

"Efektivitas stabilisasi dan kecukupan likuiditas diperkuat melalui peningkatan insentif Swap dan DNDF Lindung Nilai kepada Bank Indonesia dalam rangka pendanaan luar negeri, serta perluasan transaksi underlying yang mencakup arus masuk modal portofolio, pinjaman luar negeri oleh bank, dan foreign direct investment," jelasnya.

Meski menghadapi berbagai tekanan, BI menyebut pergerakan rupiah secara umum masih sejalan dengan mata uang negara-negara kawasan.

"Secara umum, pergerakan Rupiah masih sejalan dengan mata uang kawasan, dengan penguatan secara quarter-to-date (qtd) sebesar 0,46%" kata Erwin.

Di sisi lain, cadangan devisa Indonesia tercatat meningkat. Pada akhir Agustus 2026, posisi cadangan devisa mencapai US$ 146,5 miliar. BI juga terus memperkuat koordinasi dan komunikasi dengan korporasi serta pelaku pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar.



(fdl/fdl)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads