Pada perdagangan Senin (17/12/2007), rupiah ditutup melemah hingga 9.410 per dolar AS, dibandingkan penutupan akhir pekan lalu di level 9.320 per dolar AS.
Menurut pengamat valas Farial Anwar, ada beberapa faktor yang menyebabkan nilai tukar rupiah. Seperti sentimen menguatnya dolar AS dibandingkan mata uang lainnya. Termasuk juga harga minyak mentah dunia yang naik lagi hingga diatas US$ 90 per barel.
Sentimen negatif masih ditambah dari besarnya permintaan dolar AS dari korporasi, terutama dari Pertamina yang sedang butuh banyak untuk kebutuhan impornya.
"Korporasi, perusahaan juga banyak yang membeli dolar untuk memenuhi pembayaran utangnya baik itu bunga maupun pokoknya, tidak mungkin mereka membeli dolar pekan depan," urainya saat dihubungi detikFinance.
Anjloknya pasar saham hingga lebih dari 75 poin turut memperpuruk kondisi rupiah. "Banyak yang jual sahamnya, dapat rupiah kemudian beli dolar," imbuhnya.
Farial melihat ada indikasi BI menahan rupiah, sehingga pelemahan cukup terkendali. Namun jika dibandingkan awal tahun, rupiah tercatat sudah melemah hingga 500 poin.
"Kalau awal tahun Rp 8.900, sekarang Rp 9.400 . Jadi sudah anjlok 500 poin, performance rupiahnya merosot," ujarnya. Namun Farial memrediksi BI akhir tahu nanti akan mempercantik rupiah pada kisaran Rp 9.200-9.250 per dolar AS.
"Meskipun itu tidak riil angkanya karena pasarnya lagi sepi," pungkasnya. (qom/ddn)











































