×
Ad

IHSG Jatuh 2,5%, Balik ke Level 5.900an

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Senin, 12 Okt 2026 18:13 WIB
Foto: Andhika Prasetia/DetikFoto
Jakarta -

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini ditutup di zona merah. IHSG sepanjang hari ini melemah hingga 2,5% dan kembali ke level 5.900an.

Dikutip dari RTI, Senin (12/10/2026), IHSG pada penutupan turun sebesar 157,61 poin ke level 5.936,14 atau melemah 2,59%. IHSG dibuka di level 6.109,31 dengan level tertinggi 6.128,72 dan terendah 5.917,39.

Volume transaksi sepanjang hari ini tercatat 62,18 miliar saham dengan turnover Rp 13,73 triliun dan frekuensi transaksi sebanyak 1,88 juta kali. Total sebanyak 114 saham menguat, 602 saham melemah, dan 77 saham stagnan.

Selain melemah secara harian, IHSG juga tercatat turun 2,99% secara mingguan dan minus 9,16% jika dilihat secara bulanan. Sedangkan jika dilihat secara secara tiga bulan indeks saham Garuda masih menguat 0,40%, namun secara enam bulan jatuh hingga 16,29%.

Mengutip riset BRI Danareksa Sekuritas, pelemahan IHSG hari ini dipicu aksi wait and see para investor terhadap dinamika global. Salah satu yang memberi sentimen negatif adalah memanasnya konflik Houthi Yaman terhadap Arab Saudi yang ditandai dengan serangan ke Riyadh.

"Geopolitik memanas: serangan Houthi ke Riyadh meningkatkan risiko keterlibatan AS dan eskalasi konflik Timur Tengah, yang dapat mendorong volatilitas harga minyak serta meningkatkan risk aversion investor," tulis riset BRI Danareksa Sekuritas.

Selain itu, pasar juga menanti data inflasi Amerika Serikat (AS), di mana Consumer Price Index (CPI) menjadi katalis utama arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Inflasi yang tinggi berpotensi mempertahankan suku bunga ketat, menopang dolar AS, dan menekan aset emerging market.

Sementara di China, pelaku pasar mencermati data CPI dan neraca perdagangan September yang disebut menjadi indikator permintaan komoditas. Data yang kuat berpotensi mendukung ekspor Indonesia, sedangkan pelemahan permintaan dapat menekan saham berbasis komoditas.

Internasional Monetary Fund (IMF) dan Bank Dunia pada 12-18 Oktober juga menjadi salah satu katalis pergerakan indeks siang ini. Investor disebut mencermati prospek ekonomi global, stabilitas keuangan, dan respons kebijakan terhadap kenaikan biaya energi dan risiko geopolitik.

Kemudian oada 14-16 Oktober, pejabat The Fed akan mengumumkan arah kebijakan suku bunga setelah rilis data inflasi. Dolar AS yang bertahan dekat level tertinggi 18 bulan masih menjadi risiko bagi rupiah dan aliran dana asing.



Simak Video "Video: #TanyadetikFinance Kenapa Pelemahan Rupiah dan IHSG Tak Kunjung Berhenti?"

(fdl/fdl)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork