×
Ad

Saham BCA hingga Sinarmas Anjlok sampai Mentok!

Andi Hidayat - detikFinance
Senin, 19 Okt 2026 09:55 WIB
Foto: Gilang Faturahman/detikfoto
Jakarta -

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melemah pada perdagangan hari ini, Senin (19/10/2026). Pelemahan terjadi seiring dengan melemahnya sejumlah saham blue chip, tak terkecuali big bank caps.

Berdasarkan data RTI Business, IHSG melemah 5,06% ke level 4.922,80 pagi ini. Sejumlah saham perbankan raksasa juga tercatat melemah hingga menyentuh Auto Reject Bawah (ARB).

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) misalnya, ARB hingga 6,86% ke harga Rp 4.820 per saham. Kemudian PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) melemah hingga 6,82% ke level Rp 2.460 per saham.


Kemudian PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) melemah 5,01% ke level Rp 3.220 per saham. PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) juga tercatat melemah 4,04% ke level Rp 2.850 per saham.

Selain itu, mayoritas saham milik Sinar Mas Group kompak melemah. PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) menjadi saham dengan pelemahan terbesar, yakni auto reject bawah (ARB) hingga 6,99% ke level Rp 665 per saham.

PT MSIG Life Insurance Indonesia Tbk (MSIG) juga ARB 6,96% ke level 8.350 per saham. Selanjutnya PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) melemah 6,84% ke level Rp 436 per saham.

Sementara PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) melemah 6,83% ke level 6.475 per saham. Kemudian PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR) melemah 6,79% ke level Rp 6.175 per saham. Terakhir PT Bank Sinarmas Tbk (BSIM) yang tercatat ARB 6,71% ke level Rp 695 per saham.

Waspada Pengumuman MSCI

Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menilai IHSG masih rawan terkoreksi. Pihaknya menetapkan area support indeks saham di level 5.092 dengan posisi resist pada 5.295 Senin besok.

"Untuk Senin, kami perkirakan IHSG masih rawan koreksi dengan support 5.092 dan resist 5.295," ungkapnya kepada detikcom, Minggu (18/10).

MNC Sekuritas mencatat tiga sentimen penting yang akan mempengaruhi gerak IHSG besok. Tiga sentimen tersebut adalah pengumuman MSCI, nilai tukar rupiah, dan rilis data makroekonomi ekonomi China.

"Kami perkirakan dipengaruhi oleh (1) Respon lanjutan terhadap proposal MSCI; (2) Posisi Rupiah yang saat ini cenderung tertekan terhadap USD; (3) Investor akan mencermati PDB China, apabila menguat maka implikasinya ke Indonesia dapat dikatakan positif bagi komoditas," jelasnya.




(acd/acd)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork