Suku Bunga Bank Sentral AS Diprediksi Naik, Bagaimana Nasib Rupiah?

Suku Bunga Bank Sentral AS Diprediksi Naik, Bagaimana Nasib Rupiah?

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Senin, 19 Okt 2026 22:23 WIB
Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (8/7/2026). Penguatan mata uang Negeri Paman Sam membuat kurs dolar AS kembali bertengger di level psikologis Rp18.000 per dolar AS.
Ilustrasi.Foto: Gilang Faturahman/detikFoto
Jakarta -

Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti memprediksi suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) atau The Federal Reserve bakal naik Oktober ini. Namun kenaikannya diperkirakan minim.

Hal ini disampaikan Destry kepada Presiden Prabowo Subianto dalam rapat terbatas di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Senin (19/10/2026).

"Fed Funds Rate diperkirakan naik, namun probabilitas di bulan Oktober akan menjadi lebih kecil saat ini, sehingga itu yang tentu menjadi salah satu tantangan buat rupiah kita," ujar Destry usai rapat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia juga memaparkan mata uang Rupiah masih akan mengalami volatilitas karena situasi global masih tak menentu. Situasi suku bunga tinggi bank sentral AS yang berkepanjangan alias higher for longer juga menjadi perhatian, apalagi nilai inflasi yang masih jauh di atas target.

Destry mengklaim dalam dua hari ini Rupiah masih terjaga dengan baik. Meskipun sempat terjadi pelemahan, namun hal tersebut sejalan dengan tren negara berkembang.

ADVERTISEMENT

"Tapi so far dua hari ini rupiah bisa kami jaga stabilitasnya, sehingga terjadi memang perlambatan sedikit pelambatan dan itu juga sesuai dengan beberapa negara di emerging market," terang Destry.

Destry menambahkan BI akan selalu tetap melakukan intervensi di pasar. Dia mengaku diminta Presiden Prabowo Subianto untuk melakukan intervensi di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan Non-Deliverable Forward (NDF).

"Hingga saat ini sudah bisa mendatangkan inflow baik dalam bentuk efek spot ataupun dalam bentuk DNDF senilai sekitar US$ 8-9 miliar," jelasnya.

(hal/hns)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads