Kisruh MSCI: Eks Mendag Tuding Singapura, GIC-Temasek Membantah

Kisruh MSCI: Eks Mendag Tuding Singapura, GIC-Temasek Membantah

Anisa Indraini - detikFinance
Jumat, 23 Okt 2026 08:00 WIB
Tekanan di pasar saham Indonesia berlanjut pada awal perdagangan pekan ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka anjlok 4,31% ke level 4.961,87 pada Senin (19/10/2026), di tengah pemberlakuan batas Auto Rejection Bawah (ARB) sebesar 7% oleh Bursa Efek Indonesia (BEI).
Foto: Gilang Faturahman/detikfoto
Jakarta -

Lembaga investasi Singapura, GIC dan Temasek menjawab tudingan telah menekan pihak Morgan Stanley Capital International (MSCI) untuk pertimbangkan penurunan peringkat pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Tudingan itu dibantah.

"Keputusan investasi kami tidak didorong oleh klasifikasi indeks atau pandangan pasar dari atas ke bawah, melainkan oleh fundamental di tingkat perusahaan dan aset," kata seorang Juru Bicara GIC dikutip dari The Strait Times.

Ia menilai tuduhan tersebut tidak benar dan tidak berdasar. Terlebih pihaknya telah berinvestasi di Indonesia lebih dari 30 tahun dan akan terus dilakukan berdasarkan analisis fundamental dan disesuaikan dengan risiko.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tidak ada seorang pun dari Temasek yang pernah menghubungi MSCI untuk memengaruhi keputusan apa pun yang mereka buat terkait bursa mana pun di kawasan ini. Mungkin cukup sampai di situ saja," ujar Fock Wai Hoong, Kepala Wilayah Asia-Pasifik (di luar Tiongkok dan India) di Temasek Global Investments.

Sebelumnya, eks Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi menyebut ancaman MSCI terkait klasifikasi pasar saham Indonesia terjadi karena adanya campur tangan Singapura.

ADVERTISEMENT

Ia mengaku mendapat informasi bahwa GIC menekan MSCI agar menurunkan status pasar modal Indonesia dengan tujuan membuat pasar panik hingga investor asing bisa kembali membeli saham Indonesia dengan harga murah.

"Apakah Indonesia menerapkan capital control? Sama sekali tidak. Lalu, kenapa Singapura lewat institusi raksasa mereka seperti Temasek dan GIC yang punya pengaruh besar di MSCI begitu ngotot menekan Indonesia? Bahkan saya dapat kabar langsung di dalam, Rachel Goh di GIC yang marah-marah dan menekan MSCI supaya peringkat Indonesia diturunkan," ujar Lutfi dikutip dari Instagram pribadinya, Selasa (20/10).

Di sisi lain, pihak MSCI menyampaikan bahwa keputusan terkait indeks yang mereka buat mengikuti metodologi yang transparan dan berbasis aturan. Pihaknya menerima masukan pasar hingga 30 April 2027 dan akan mengumumkan keputusannya paling lambat 30 Juni.

"MSCI akan terus memantau perkembangan di pasar Indonesia serta berinteraksi dengan para pelaku pasar dan otoritas," ujarnya.

Tudingan Tidak Masuk Akal

Mantan Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Dino Patti Djalal juga menyebut tudingan bahwa Singapura melakukan konspirasi untuk menjatuhkan ekonomi Indonesia melalui MSCI tidak masuk akal.

"Pandangan yang belakangan beredar bahwa Singapura sedang berkonspirasi untuk menjatuhkan pasar modal Indonesia, mensabotase ekonomi Indonesia dan melalui MSCI mencoba merebut aset-aset Indonesia dalam situasi fire sale atau jual saham murah, adalah pandangan yang tidak masuk akal dan jauh dari realita yang sebenarnya," katanya dikutip dari Instagram resmi @dinopattidjalal.

Menurut Dino, Singapura merupakan negara tetangga yang memiliki riwayat kerja sama baik dengan Indonesia. Dengan demikian tudingan Singapura berkonspirasi untuk mencelakai Indonesia dianggap tidak masuk akal.

"Sejarah membuktikan bahwa Singapura selalu siap membantu kita apakah itu untuk bencana tsunami, gempa bumi, krisis moneter, COVID-19, investasi, pendidikan, pembangunan Batam, Bintan, Karimun dan Kendal di Jawa Tengah, kerja sama militer dan lain sebagainya," ungkap Dino.

Dino yang juga mantan Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat (AS) menyebut, Singapura memiliki peran besar terhadap stabilitas politik dan ekonomi Indonesia. Pasalnya jika kondisi ekonomi dan politik Indonesia bermasalah, maka Singapura menjadi salah satu negara yang terdampak.

"Mereka adalah salah satu negara yang paling terdampak kalau terjadi gejolak politik dan ekonomi di negara kita. Karena itu, sebagai negara kecil yang secara geografis dihimpit Indonesia dan Malaysia, hukumnya tabu dan haram bagi elite politik Singapura untuk berkonspirasi mencelakai Indonesia. Sebagaimana juga tabu dan haram bagi Indonesia untuk mencelakai Singapura," ujarnya.



(aid/fdl)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads