PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) melaporkan kinerja keuangan konsolidasian untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada 30 September 2026 (9M26) kepada BEI/OJK. PTBA membukukan laba bersih sebesar Rp 4,41 triliun dan EBITDA Rp 7,19 triliun, dengan net profit margin dan EBITDA margin berturut-turut di angka 13% dan 20%.
Kinerja operasional PTBA juga menunjukkan pemulihan pada kuartal III-2026. Secara kuartalan (quarter-on-quarter/QoQ), produksi meningkat 17% dan penjualan naik 2%. Sementara itu, harga jual rata-rata (average selling price/ASP) naik 7% secara QoQ dan 18% secara tahunan (year-on-year/YoY).
"Di tengah dinamika industri batu bara dan tantangan operasional sepanjang tahun 2026, PTBA berhasil mencatatkan pertumbuhan kinerja keuangan yang solid hingga kuartal III 2026. Pencapaian ini didukung oleh pemulihan produksi yang semakin baik pada kuartal III, optimalisasi bauran penjualan dengan memanfaatkan momentum penguatan harga batu bara, serta pengelolaan biaya dan operasional yang disiplin," ujar Direktur Utama PTBA, Bambang Ismawan dalam keterangan tertulis, Kamis (29/10/2026).
"Ke depan, Perseroan akan terus memperkuat efisiensi di seluruh rantai bisnis, mengoptimalkan peluang pasar domestik dan ekspor, serta memastikan pengembangan infrastruktur logistik dapat segera berjalan agar mendukung pertumbuhan usaha yang berkelanjutan dan penciptaan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan," imbuh Bambang.
Pendapatan Usaha dan Harga Jual Rata-rata
PTBA membukukan pendapatan usaha sebesar Rp 35,20 triliun hingga September 2026, meningkat 12% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini terutama didorong oleh kenaikan harga jual rata-rata (average selling price/ASP) sebesar 18% secara tahunan, seiring penguatan harga batu bara global yang tercermin dari kenaikan indeks Newcastle dan ICI-3 masing-masing sebesar 25% dan 26%.
Kenaikan harga jual tersebut mampu mengimbangi penurunan volume penjualan sebesar 4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Dari total volume penjualan, pasar domestik berkontribusi sebesar 52%, sedangkan pasar ekspor menyumbang 48%. Adapun lima negara tujuan ekspor terbesar PTBA adalah Bangladesh, Vietnam, India, Kamboja, dan Thailand.
Beban Pokok Pendapatan dan Beban Operasional
Beban pokok pendapatan PTBA tercatat sebesar Rp 27,94 triliun, meningkat sekitar 1% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan ini antara lain dipengaruhi oleh harga bahan bakar yang naik 36% secara tahunan, sehingga menambah biaya operasional penambangan dan pengangkutan batu bara.
Meski demikian, tekanan biaya tersebut dapat diimbangi oleh penurunan stripping ratio dari 5,98 kali menjadi 5,59 kali. Selain itu, volume produksi dan angkutan batu bara masing-masing turun 4% dan 10% secara tahunan. Kombinasi faktor tersebut turut membantu PTBA mengendalikan beban pokok pendapatan sepanjang periode berjalan.
Di sisi lain, beban operasional Perseroan meningkat Rp 266,77 miliar atau 13% secara tahunan, sejalan dengan perkembangan aktivitas operasional selama periode tersebut. Penghasilan Keuangan, Biaya Keuangan, dan Bagian atas Laba Neto Entitas Asosiasi dan Ventura Bersama
Penghasilan keuangan PTBA meningkat 16% secara tahunan menjadi Rp 183,50 miliar. Kenaikan ini terutama ditopang oleh peningkatan penempatan deposito berjangka, termasuk untuk pengelolaan likuiditas dan penempatan Devisa Hasil Ekspor (DHE) sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
Sementara itu, biaya keuangan turun 45% secara tahunan menjadi Rp 136,52 miliar. Penurunan ini sejalan dengan berkurangnya beban bunga setelah Perseroan menyelesaikan fasilitas kredit modal kerja pada akhir 2025. Di sisi lain, bagian laba neto dari entitas asosiasi dan ventura bersama meningkat 75% secara tahunan menjadi Rp 581,31 miliar.
Didukung oleh pertumbuhan pendapatan dan pengendalian beban pokok pendapatan, PTBA membukukan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 4,41 triliun.
Total Aset
Hingga 30 September 2026, total aset Perseroan mencapai Rp51,55 triliun, meningkat 17% dibandingkan posisi akhir Desember 2025 sebesar Rp43,92 triliun. Peningkatan tersebut terutama didorong oleh kenaikan deposito berjangka, piutang usaha sejalan dengan penguatan harga jual batu bara, serta kenaikan pajak dibayar di muka terkait restitusi pajak pertambahan nilai (PPN).
Total Liabilitas dan Ekuitas
Total liabilitas Perseroan tercatat sebesar Rp24,31 triliun pada 30 September 2026, meningkat 14% dibandingkan posisi akhir Desember 2025 sebesar Rp21,30 triliun. Peningkatan tersebut terutama dipengaruhi oleh kenaikan kewajiban operasional serta penambahan pinjaman bank untuk mendukung pengembangan Proyek Tanjung Enim-Kramasan.
Sementara itu, total ekuitas Perseroan meningkat 20% menjadi Rp27,24 triliun dibandingkan posisi akhir tahun 2025 sebesar Rp22,62 triliun. Pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh peningkatan saldo laba seiring dengan pencapaian laba bersih Perseroan sepanjang periode berjalan.
Arus Kas dari Aktivitas Operasi
Arus kas bersih yang diperoleh dari aktivitas operasi tercatat naik dari sebelumnya Rp4,20 triliun menjadi Rp4,44 triliun atau naik 9% YoY. Kenaikan ini terutama disebabkan oleh peningkatan profitabilitas serta penurunan pembayaran pada pemasok dan pembayaran bunga.
Arus Kas dari Aktivitas Investasi
Arus kas bersih yang digunakan untuk aktivitas investasi tercatat naik dari periode sebelumnya Rp2,21 triliun menjadi Rp3,50 triliun sampai dengan 30 September 2026. Kenaikan penggunaan kas untuk aktivitas investasi tersebut terutama dipengaruhi oleh adanya penempatan deposito berjangka atas Devisa Hasil Ekspor (DHE).
Arus Kas dari Aktivitas Pendanaan
Arus kas bersih yang digunakan untuk aktivitas pendanaan tercatat turun dari periode sebelumnya Rp2,17 triliun menjadi Rp0,70 triliun sampai dengan 30 September 2026. Penurunan penggunaan kas bersih tersebut terutama dipengaruhi oleh pembayaran dividen yang lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya, serta peningkatan penerimaan pinjaman jangka panjang untuk mendukung pembiayaan Proyek Tanjung Enim-Kramasan.
Corporate Secretary Division Head Eko Prayitno menyampaikan Perseroan akan terus memperkuat fundamental bisnis melalui peningkatan efisiensi operasional, optimalisasi rantai pasok, dan percepatan penyelesaian proyek strategis.
"Ke depan, PTBA akan terus memperkuat fundamental bisnis melalui peningkatan efisiensi operasional, optimalisasi rantai pasok, serta percepatan penyelesaian proyek-proyek strategis. Sejalan dengan itu, Perseroan juga terus mendorong diversifikasi usaha melalui pengembangan bisnis energi dan hilirisasi batu bara sebagai bagian dari transformasi menuju perusahaan energi yang berkelanjutan. Berbagai langkah strategis ini diharapkan dapat memperkuat daya saing Perseroan sekaligus menciptakan nilai tambah jangka panjang bagi pemegang saham dan seluruh pemangku kepentingan," pungkas Eko.
Simak Video "Video: Kabar Terbaru Penggeledahan Soal Korupsi Batu Bara"
(akn/ega)