Minyak US$ 100, Rupiah Bisa Tembus 9.500/US$

Minyak US$ 100, Rupiah Bisa Tembus 9.500/US$

- detikFinance
Kamis, 03 Jan 2008 14:08 WIB
Jakarta - Pelaku pasar khawatir rupiah akan segera menembus level 9.500 per dolar AS, jika harga minyak dunia menyentuh US$ 100 per barel pada pekan ini.

Melambungnya harga minyak akan terus menekan rupiah hingga titik terlemahnya terhadap dolar.

"Apabila minyak terus bertengger di US$ 100 per barel, rupiah bisa tembus 9.500 per dolar AS di minggu ini. Dipicu pembelian dolar oleh Pertamina yang semakin besar untuk membeli minyak," kata pengamat valuta asing Farial Anwar dalam perbincangannya dengan detikFinance, Jakarta, Kamis (3/1/2008).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Farial mengatakan harga minyak US$ 100 per barel memang sudah diprediksi pasar. Karena melambungnya harga minyak bukan karena permintaan ril tapi ulah spekulan.

"Saya lihat sendiri bagaimana para spekulan ini melakukan jual beli di New York Merchantile persis seperti jual beli saham," ungkap Farial.

Menurutnya dengan aksi spekulan ini Indonesia telah ikut menjadi korbannya. Karena disaat dolar melemah dengan mata uang lain, dolar AS justru menguat terhadp rupiah.

"Pelaku pasar melihat Pertamina yang biasanya beli US$ 70 per barel akan butuh US$ 100 per barel. Dengan indikasi kebutuhan dolar akan meningkat maka spekulan ramai-ramai borong dolar jadi sentimennya naik, bisa-bisa ibu rumah tangga pun ikut-ikutan," katannya.

Selain faktor minyak, pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga akan memicu pembelian dolar AS yang lebih banyak. Ini karena investor melihat dana hasil penjualan saham bisa diinvestasikan ke valas dengan keuntungan yang lebih menggiurkan.

Farial memprediksi apabila pemerintah membiarkan rupiah terus melemah justru akan menjadi bumerang, karena lambat laun akan mengganggu pertumbuhan ekonomi.

"Tekanan harga minyak paling cepat berdampak ke inflasi dengan naiknya harga BBM industri yang akan menaikan harga barang dan jasa. Apalagi dengan bencana alam dimana-mana inflasi semakin tinggi. Dampak inflasi larinya mata uang yang tertekan," jelasnya.

(arn/ir)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads