Kelangkaan tahu tempe karena produsen tak mampu membeli kedelai yang harganya melambung 100% telah membuka mata investor.
Kenaikan harga komoditas dunia seperti kedelai saja sudah menyusahkan ekonomi. Ini baru kedelai yang naik. Bagaimana jika harga minyak jebol ke US$ 100 per barel yang mau tidak mau lebih memukul perekonomian Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kenaikan harga komoditas energi dan perkebunan memang menguntungkan karena mendatangkan pendapatan lebih buat negara. Tapi kenaikan itu harus dibayar dengan merayapnya harga bahan baku di Indonesia.
Kondisi inilah yang kini menjadi perhatian investor yang khawatir perekonomian Indonesia bakal susah.
"Karena demo tahu tempe investor mulai sadar kenaikan harga komoditas ternyata menyusahkan ekonomi Indonesia," kata Pengamat saham Edwin Sinaga dalam perbincangannnya dengan detikFinance, Rabu (16/1/2008).
Saat ini kata Edwin, pelaku pasar mulai sadar krisis ekonomi di AS ternyata cukup hebat. Kenaikan harga komoditas yang gila-gilaan seperti minyak dan sektor perkebunan justru berbalik arah menyerang perekonomian Indonesia.
Padahal sebelumnya ketika harga minyak meroket pemerintah bilang jangan panik, ekonomi AS melemah pemerintah mengatakan tidak berdampak ke ekonomi.
"Tapi kini ketika tempe pun susah dicari, orang baru sadar kenaikan harga komoditas ternyata merugikan ekonomi Indonesia," kata Edwin.
(ir/qom)











































