Takut Resesi, IHSG Berantakan

Amblas 137 Poin

Takut Resesi, IHSG Berantakan

- detikFinance
Rabu, 16 Jan 2008 16:10 WIB
Jakarta - Investor saham tunggang langgang meninggalkan bursa karena takut resesi ekonomi AS. Akibatnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berantakan karena investor panik.

Pada penutupan perdagangan saham Rabu (16/1/2008) IHSG jatuh hingga 137,720 poin (5,04%) ke posisi 2.592,311. IHSG dalam perdagangan hari ini bahkan sempat turun hingga 172,999 poin.

Penurunan IHSG tidak sendiri, bursa saham lainnya juga ikut terjun. Bursa Tokyo turun 3,35%, STI Singapura turun 2,46%, Taiwan turun 2,96%, Shanghai turun 2,81%, Kosdaq turun 3,25%, Seoul turun 2,4%, Hang Seng turun 5,37%, dan Australia turun 2,48%.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Indeks LQ-45 turun 33,697 poin menjadi 557,415 dan Jakarta Islamic Indec turun 27,641 poin ke level 467,979.

Perdagangan saham hari ini mencatat transaksi sebanyak 81.612 kali, dengan volume 3,867 miliar unit saham, senilai Rp 8,502 triliun. Hanya 20 saham yang naik harga. Selebihnya 213 saham turun dan 21 saham stagnan.

Saham-saham yang terjun harganya di top losser didominasi saham tambang, perbankan, perkebunan dan telekomunikasi antara lain, Astra Agro Lestari (AALI) turun Rp 2.800 menjadi Rp 30.350, Timah (TINS) turun Rp 1.650 menjadi Rp 29.000, Astra Internasional (ASII) turun Rp 1.750 menjadi Rp 26.250, Perusahaan Gas Negara (PGAS) turun 1.300 menjadi Rp 12.900, International Nickel Indonesia (INCO) turun Rp 600 menjadi Rp 9.450, Aneka Tambang (ANTM) turun Rp 500 menjadi Rp 3.900, Bumi Resources (BUMI) turun Rp 450 menjadi Rp 5.650, Telkom (TLKM) turun Rp 350 menjadi Rp 8.950 dan Bank Mandiri (BMRI) turun 175 menjadi Rp 3.025.

Sedangkan saham yang naik harganya antara lain, Petrosea (PTRO) naik Rp 50 menjadi Rp 5.650, Mitra Adiperkasa (MAPI) naik Rp 40 menjadi Rp 670, dan Bank Century (BCIC) naik Rp 1 menjadi Rp 67.

Pengamat saham Edwin Sinaga mengatakan, kepanikan yang melanda bursa karena sejak tahun lalu IHSG memang menggelembung besar disaat ekonomi global sebenarnya sedang labil.

"Dulu harga minyak meroket dibilang jangan panik, ekonomi AS melemah tidak berdampak tapi kini ketika tempe pun susah dicari orang baru sadar kenaikan harga komoditas ternyata merugikan ekonomi Indonesia," kata Edwin dalam perbincangannya dengan detikFinance, Rabu (16/1/2008).

Saat ini kata Edwin, pelaku pasar mulai sadar krisis ekonomi di AScukup hebat. Kenaikan harga komoditas yang gila-gilaan seperti minyak dan sektor perkebunan justru berbalik arah menyerang perekonomian Indonesia.

Pelaku pasar juga khawatir terjadinya resesi di AS memukul pasar saham di Asia. Resesi AS semakin dekat setelah bank investasi besar Merrill Lynch dan Citigroup dilanda kerugian besar-besaran akibat ekspektasi sektor subprime.

Perdana Menteri Jepang Yasuo Fukuda bahkan memperingatkan bahwa kerugian besar yang dicetak Citigroup kemungkinan tak hanya mempengaruhi perekonomian AS, namun juga dunia.

(ir/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads