Dirut Pertamina Ari Soemarno menjelaskan, kebutuhan dana investasi sebesar itu tidak mungkin dibiayai dari keuangan Pertamina sendiri.
Maka itu Pertamina akan mencari dana dari pihak luar seperti pinjaman atau obligasi. Ari mengaku penerbitan obligasi akan lebih menguntungkan karena bunga yang didapat bisa lebih murah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun Pertamina baru bisa menerbitkan obligasi setelah neraca awalnya rampung. Dengan neraca awalnya itu, Pertamina bisa memiliki laporan keuangan yang audited sejak 2003 hingga 2007. Neraca awalnya diharapkan bisa selesai bulan ini.
Rencana investasi Pertamina yang sebesar Rp 21 triliun itu terdiri dari sektor hulu Rp 7 triliun dan Rp 14 triliun di sisi hilir. (lih/ir)











































