Saat ini perseroan memiliki dana internal sebesar Rp 400 milliar, sehingga dana eksternal yang dibutuhkan sekitar Rp 300 juta.
Berdasarkan siaran pers yang diterima detikFinance, Kamis (17/1/2008), penerbitan obligasi merupakan opsi kedua yang akan dilakukan perseroan jika tidak mendapatkan dana pinjaman bank.
Sementara jika mendapatkan pinjaman dari bank, maka rencana penerbitan obligasi akan ditunda sampai pembicaraan lebih lanjut yang akan dilakukan pada Maret 2008.
"Kami akan terbitkan obligasi jika pinjaman bank dirasakan kurang," kata Presiden Direktur Artha Prima Finance, Budi Sunardi.
Artha Prima Finance, selama ini telah melakukan kerjasama dengan 15 bank dalam rangka memenuhi sumber pembiayaan, diantaranya: Bank Internasional Indonesia (BII), Bank Negara Indonesia (BNI), Bank Danamon, Bank Niaga, Bank Bukopin, Bank Century, dan Bank Bumi Artha.
"Sebagian besar telah bekerja sama dengan perusahaan selama 4 tahun, yang baru hanya Bank Bukopin dan Bank Bumi Artha," jelas Budi.
Sementara tingkat suku bunga yang dibebankan kepada nasabah Artha Prima Finance sebesar 23-24%. Pada tahun 2008 ini, Artha Prima Finance menargetkan pertumbuhan sebesar 48% menjadi Rp 678 miliar.
Laba yang ditargetkan pada tahun 2008 ini sebesar Rp 14,3 miliar, dan untuk tiga tahun kedepan ditargetkan bisa mencapai Rp 100 miliar.
Sepanjang tahun 2007, perusahaan telah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp 459,6 miliar atau melampaui target pembiayaan tahun 2007 sebesar Rp 451 miliar. Dengan demikian perusahaan mencatat laba bersih tahun 2007 sebesar Rp 8,8 miliar.
(dro/qom)











































