Pada penutupan perdagangan Selasa (22/1/2008) sesi I, IHSG ditutup ambruk hingga 226,234 (9,10%) ke level 2.259,645. Indeks LQ 45 turun 54,233 poin (10,26%) ke level 474,193.
Perdagangan di seluruh pasar mencatat nilai transaksi Rp 3,671 triliun sebanyak 2.628 juta lembar saham. Hanya 4 saham yang naik, 220 saham turun dan 16 saham stagnan.
Kejatuhan IHSG ini mengikuti anjloknya bursa-bursa regional. Bursa saham regional yang mencatat penurunan adalah Tokyo anjlok 4,4% ke level terendah dalam 27 bulan, Australia turun 5,1%, Hong Kong turun 8%, Singapura turun 3,9%.
Indeks saham di Bombay Stock Exchange anjlok hingga 9,75% pada awal perdagangan sehingga dilakukan penghentian sementara secara otomatis.
Hal senada terjadi di bursa saham Korea Selatan. Indeks KOSPI anjlok hingga 6,23% atau 104,87 poin (1.578,69), sehingga perdagangannya dihentikan sementara.
Alfatih, analis dari BNI Securities menyatakan kebanyakan investor yang panik bukan investor fundamental tapi investor yang melakukan trading harian.
"Jadi kondisi ini bisa dibilang panik kalau kita melihat dari sudut pandangnya apa," katanya.
"Kebanyakan yang melakukan penjualan ini adalah mereka yang melakukan transaksi margin (membeli saham dengan dana pinjaman dari sekuritas), kalau tidak segera keluar mereka akan mengalami kerugian lebih besar dan utang lebih banyak," imbuh Alfatih. (qom/ddn)











































