"Rencana pembangunan pabrik di Sorowako belum mendapat izin. Kita masih tunggu respon dari pemerintah. Presentasi ke Departemen Pertambangan sudah kita lakukan Februari lalu," ujar Presiden Direktur INCO, Arief Siregar, usai RUPST di Ritz Carlton Pacific Place, Kawasan Niaga Sudirman, Jakarta, Rabu (26/3/2008).
Sebelumnya INCO berencana membangun pabrik pabrik pengolahan high pressure acid leach di Bahodopi, Sulawesi Tengah, sesuai dengan kontrak karya INCO dengan pemerintah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pemerintah belum memberikan respon atas hasil presentasi yang telah kita sampaikan," ujar Arief.
Nilai investasi INCO di pabrik tersebut sebesar US$ 1,1 miliar. Jika pabrik tersebut sudah beroperasi, INCO menargetkan mampu menambah produksinya sebesar 22 ribu weight metric ton (wmt) per tahunnya.
"Jika semuanya lancar, proses pembangunan pabrik bisa dimulai antara 2010-2011," ujar Corporate Secretary INCO, Indra Ginting.
Per 2007, produksi nikel INCO sebesar 74.860 wmt, sedangkan di tahun 2008 perseroan menargetkan produksi sebesar 77-79 ribu wmt. Hasil produksi INCO seluruhnya diekspor ke Jepang.
"Sekitar 20% ke Grup Sumitomo dan 80% ke Valley INCO," ujar Indra.
Sementara di tahun 2008 ini, INCO menganggarkan belanja modal (capex) sebesar US$ 212 juta. Komposisinya Capital Project US$ 64 juta, Sustaining Capex US$ 77 juta, dan anggaran perbaikan lingkungan sebesar US$ 42 juta. Sisanya lain-lain.
"Untuk pendanaan capex, kita lebih banyak internal. Kita belum ada rencana melakukan pinjaman," ujar Indra. (dro/ir)











































