Pada perdagangan 22 April 2008, euro berada di level 1,6019 dolar setelah muncul data penjualan rumah di AS yang menurun sekitar 2% selama bulan Maret.
Euro mengalami rally sejak awal bulan April dan mencapai puncaknya pada Selasa kemarin, setelah European Central Bank (ECB) berencana menaikkan suku bunga untuk mengontrol inflasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Perbedaan suku bunga yang besar dari The Fed akan membuat euro makin aktif," kata Camilla Sutton, analis dari Scotia Capital seperti dilansir dari BBCNews, Rabu (23/4/2008).
Meski penguatan euro merupakan berita bagus untuk investor dan penabung, namun disisi lain penguatan euro ini akan membuat produk ekspor negara Eropa menjadi lebih mahal di AS.
Melemahnya dolar AS juga telah membuat harga minyak dunia terbang ke rekor baru US$ 119 per barel.
Sementara mata uang rupiah diprediksi akan ikut tertekan atas tingginya harga minyak dunia.
Rupiah pada perdagangan valas pukul 08.45 WIB, Rabu (23/4/2008) ada di posisi 9.200 per barel dan ditransaksikan dikisaran 9.195-9.205 per dolar AS.
Tapi pelaku pasar percaya Bank Indonesia (BI) akan terus melakukan intervensi jika rupiah tembus level 9.200-an untuk mengamankan inflasi.
(ir/ir)











































