"Kami menargetkan perolehan laba bersih sebesar Rp 6 miliar tahun ini, naik dari tahun lalu yang sebesar Rp 778 juta," ujar Direktur TIRT, Herlina Sunarly, usai RUPS Tahunan di hotel Le Meredien, Jl Jend Sudirman, Jakarta, Kamis (19/6/2008).
Lonjakan tersebut didorong oleh dua hal yaitu, kenaikan harga kayu sebesar 10-15% tahun ini dan asumsi perseroan dapat menangani rugi kurs yang telah menggerus perolehan pendapatan perseroan tahun lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kenaikan harga kayu terutama disebabkan adanya penurunan supply bahan baku kayu akibat belum kondusifnya iklim industri kayu nasional terkait masalah illegal logging dan terhambatnya pasokan akibat kondisi cuaca yang mengganggu transportasi.
"Pasokan bahan baku kayu mengalami penurunan cukup banyak. Banyak pemain di industri ini yang tidak bisa bertahan. Namun kami tetap yakin dapat tetap bertahan," papar Herlina.
Pada tahun lalu, volume penjualan TIRT sebesar 122.477 meter kubik. Tahun ini, TIRT menargetkan volume penjualan hanya sebesar 110 ribu meter kubik, atau turun sekitar 10%.
"Walaupun menurun, tapi kan ada kenaikan harga," ulas Herlina.
Mengenai target perolehan pendapatan, tahun ini TIRT menargetkan sebesar Rp 748 miliar, turun dibanding tahun lalu yang sebesar Rp 772 miliar.
"Memang target kami menurun, tapi lebih disebabkan kurangnya pasokan bahan baku. Malah kalau tidak ada kenaikan harga bisa lebih turun lagi," ujar Herlina.
Meskipun begitu, perseroan optimistis dapat menumbuhkan perolehan laba bersih yang signifikan. Pada tahun 2007, perolehan laba bersih perseroan tergerus rugi kurs yang mencapai Rp 8,4 miliar.
"Tahun ini kami yakin tidak mengalami rugi kurs," ujar Herlina.
Corporate Secretary TIRT, Boy Noviady Daswar mengungkapkan bahwa tahun ini perseroan akan melakukan berbagai upaya efisiensi untuk meminimalisir beban.
"Antara lain mengganti bahan baku dari yang semula berasal dari hutan alam menjadi hutan rakyat atau hutan tanaman industri (HTI). Selain itu, kami akan merekondisi alat-alat produksi yang tidak optimal," ujar Boy.
Mengenai dividen, pemegang saham menyetujui tidak membagikan dividen tahun 2007 dengan alasan akan digunakan untuk memperkuat modal kerja dan dana cadangan. (dro/ir)











































